1. Pengertian Penilaian
Penilaian
merupakan serangkaian kegiatan untuk memperoleh, menganalisis, dan menafsirkan
data tentang proses dan hasil belajar peserta didik yang dilakukan secara
sistematis dan berkesinambungan, sehingga menjadi informasi yang bermakna dalam
pengambilan keputusan (Trianto, 2010). Dalam istilah
asingnya, penilaian adalah evaluation dan diperoleh kata indonesia
evaluasi yang berarti menilai (tetapi dilakukan dengan mengukur terlebih
dahulu). Kita tidak dapat mengadakan penilaian sebelum kita mengadakan
pengukuran.
Mengukur adalah membandingkan sesuatu
dengan satu ukuran. Pengukuran bersifat kuantitatif. Menilai adalah
mengambil suatu keputusan terhadap seseuatu dengan ukuran baik buruk. Penilaian
bersifat kualitatif. Mengadakan evaluasi meliputi kedua langkah diatas,
yakni mengukur dan menilai.
Sedangkan,
Pengertian penilaian berdasarkan peraturan MENDIKNAS Nomor 20 Tahun2007 Penilaian
pendidikan adalah proses pengumpulan dan pengolahan
informasi untuk menentukan pencapaian hasil belajar peserta didik.
Penilaian hasil belajar peserta didik dilaksanakan berdasarkan standar
penilaian pendidikan yang berlaku secara nasional. Standar penilaian pendidikan
adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan mekanisme, prosedur,
dan instrumen penilaian hasil belajar peserta didik. Penilaian dapat berupa
ulangan dan atau ujian. Dalam dunia pendidikan, khususnya dunia persekolahan,
penilaian mempunyai makana ditinjau dari berbagai segi.
a.
Makna bagi sisiwa
Dengan diadakanya penilaian, maka siswa dapat mengetahui sejauh mana telah
berhasil mengikuti pelajaran yang diberikan oleh guru. Hasil yang diperoleh
siswa dari perkerjaan menilai ini ada 2 kemungkinan yaitu memuaskan dan tidak
memuaskan.
b.
Makna bagi guru
1. Dengan hasil
penilaian yang diperoleh guru akan dapat mengetahui kemampuan siswa. Dengn petunjuk ini guru dapat lebih
memusatkan perhatianya kepada siswa-siswa yang belu berhasil.
2.
Guru
mengetahui apa materi yang diajarkan sudah tepat bagi siswa sehingga untuk
memberikan pengajaran diwaktu yang akan
datang tidak perlu diadakan perubahan.
3.
Guru akan
mengetahui apakah metode yang digunakan sudah tepat atau belum
c.
Makna bagi sekolah
a)
Hasil
belajar merupakan cermin kualitas sesuatu sekolah.
b)
Informasi
dari guru tentang tepat tidaknya kurikulum untuk sekolah itu dapat merupakan
bahan pertimbangan bagi perencanaan
sekolah untuk masa-masa akan datang.
c)
Informasi
hasil penilaian yang diperoleh dari tahun ketahun dapat digunakan sebagai pedoman bagi sekolah
2. Tujuan
Penilaian
Tujuan atau fungsi penilaian ada beberapa hal:
a)
Penilaian
berfungsi selektif
Dengan mengadakan penilaian guru mempunyai cara untuk mengadakan seleksi
atau penilaian terhadap siswanya. Penilaian itu sendiri
mempunayai berbagai tujuan., antara lain:
·
Untuk
memilih siswa yang dapat diterima disekolah tertentu.
·
Untuk
memilih siswa yang dapat naik ke kelas atau tingkat berikutnya
·
Untuk
memilih siswa yang seharusnya mendapat beasiswa
·
Untuk
memilih siswa yang sudah berhak meninggalkan sekolah, dan sebaliknya.
b)
Penilaian
berfungsi diagnostik
Dengan
mengadakan penilaian, sebelumya guru mengadakan diagnosis kepada siswa tentang
kebaikan dan kelamahan-kelamahanya. Dengan diketahui sebab-sebab kelemahan ini,
akan lebih mudah dicari untuk mengatasi.
c)
Penilaian
berfungsi sebagai penempatan
Sistem yang
baru yang kini banyak dipopulerkan dinegara barat, adalah sistem belajar
sendiri. Belajar sendiri dapat dilakukan dengan cara mempelajari sebuah paket
belajar, baik berbentuk modul maupun paket belajar yang lain. Sebagai alasan
dari timbulnya sistem ini adalah adanya pengakuan yang besar terhadap kemapuan
individual. Setiap siswa sejak lahirnya telah membawa bakat sendiri-sendiri sehingga
pelajaran akan lebih efektif apabila disesuaiakan dengan pembawaan yang ada.
Akan tetapi diesebabkan karena keterbatasan sarana dan tenaga, pendidikan yang
bersifat individual kadang-kadang sukar sekali dilaksanakan. Pendekatan yang lebih bersifat melayani
perbedaan kemampuan, adalah pengajaran secara kelompok . untuk dapat menentukan
dengan pasti dikelompok mana seorang siswa harus ditempatkan, digunkan untuk
penilaian. Sekelompok siswa yang mempunyai hasil penilaian yang sama, akan
berada dalam kelompok yang sama dalam belajar.
d)
Penilaian
berfungsi sebagai pengukur keberhasilan.
Fungsi
keempat dari penilaian ini dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana suatu
perogram berhasil diterapkan. Telah disinggung pada bagian sebelum ini,
keberhasilan program ditentukan oleh beberapa faktor yaitu faktor guru, metode
mengajar, kurikulum, sarana, dan sistem administrasi.
3 Aspek Penilaian
Tujuan IPA adalah menguasai pengetahuan IPA, memahami
dan menerapkan konsep IPA, menerapkan keterampilan proses, dan mengembangkan
sikap. Tujuan penilaian ini sejalan dengan tiga aspek dalam kerangka kurikulum
IPA seperti ditunjukkan di bawah:
1. Penilaian Pengetahuan, pemahaman
dan penerapan konsep IPA
2. Penilaian Keterampilan dan Proses
3. Penilaian karakter dan sikap
(sikap ilmiah)
Penjelasan ketiga jenis penilaian
tersebut di atas adalah sebagai berikut:
- 1. Penilaian Pengetahuan, Pemahaman dan Penerapan Konsep IPA
Penilaian pengetahuan IPA merupakan produk dari
pembelajaran IPA. Penilaian ini bertujuan untuk melihat penguasaan peserta
didik terhadap fakta, konsep, prinsip, dan hukum-hukum dalam IPA dan
penerapannya dalam kehidupan. Peserta didik diharapkan dapat menggunakan
pemahamannyatersebut untuk membuat keputusan, berpartisipasi di masyarakat, dan
menanggapi isu-isu lokal dan global.
- 2. Penilaian Keterampilan Proses
Penilaian dilakukan tidak hanya terhadap produk,
tetapi juga proses.Penilaian proses IPA dilakukan terhadap keterampilan proses
IPA, meliputi keterampilan dasar IPA dan keterampilan terpadu tingkat awal.
Keterampilan proses IPA dasar meliputi observasi, inferensi, melakukan
pengukuran, menggunakan bilangan, klasifikasi, komunikasi, dan prediksi. Di
samping itu,peserta didik mulai diperkenalkan dengan kemampuan melakukan
percobaan sederhana dengan dua variabel atau lebih untuk menguji hipotesis
tentang hubungan antar variabel. Peserta didik juga dilatih mengkomunikasikan
hasil belajarnya melalui berbagai bentuk sepeti debat, diskusi, presentasi,
tulisan, dan bentuk ekspresif lainnya. Dari berbagai keterampilan proses
ilmiah, berikut adalah enam keterampilan dasar yang perlu dikuasai untuk
peserta didik.
a. Observasi
Penilaian keterampilan melakukan observasi dinilai
pada saat melakukan observasi dalam rangka memperoleh data hasil penginderaan
terhadap objek dan fenomena alam menggunakan panca indera. Informasi yang
diperoleh menimbulkan rasa ingin tahu, pertanyaan, interpretasi, dan
investigasi.
b. Komunikasi
Keterampilan berkomunikasi secara ilmiah menggunakan
berbagai cara, seperti menggunakan grafik, carta, peta, simbol, diangram, rumus
matematis, dan demonstrasi visual, baik secara tertulis maupun lisan.
c. Klasifikasi
Keterampilan melakukan klasifikasi diperlukan untuk
mengelompokkan berbagai objek untuk mempermudah mempelajarinya, berdasarkan
persamaan, perbedaan, dan saling keterkaitan obyek.
d. Pengukuran
Keterampilan melakukan pengukuran menggunakan alat
ukur standar untukmelakukan observasi secara kuantitatif, membandingkan, dan
mengklasifikasikan, serta mengkomunikasikannya secara efektif. Alat pengukuran
meliputi penggaris, meteran, neraca, gelas ukur, termometer, pH meter,
Higrometer, dan sebagainya.
e. Inferensi
Keterampilan melakukan interpretasi dan menjelaskan
kejadian di sekitar kita.Kemampuan ini dibutuhkan antara lain untuk menyusun
hipotesis. Interpretasi menghubungkan pengalaman lampau dengan apa yang sedang
dilihat.
f. Prediksi
Keterampilan melakukan prediksi ditentukan oleh
observasi yang teliti dan inferensi untuk memprediksi apa yang akan terjadi
untuk menentukan reaksi yang tepat terhadap lingkungan.
g. Percobaan Sederhana
Keterampilan melakukan percobaan diawali dengan
kemampuan menyusunpertanyaan, mengidentifikasi variabel, mengemukakan
hipotesis, mengidentifikasi variabel kontrol, membuat desain percobaan,
melakukan percobaan, mengumpulkan data, dan interpretasi data.
- 3. Penilaian sikap
Penilaian sikap ilmiah meliputi
sikap obyektif, terbuka, tidak menerima begitusaja sesuatu sebagai kebenaran,
ingin tahu, ulet, tekun, dan pantang menyerah. Selain itu, kemampuan
bekerjasama, bertukar pendapat, mempertahankan pendapat, menerima saran, dan
kemampuan sosial lainnya dapat juga dilakukan melalui pembelajaran IPA
4. Teknik dan Instrumen Penilaian
Teknik dan
instrumen yang digunakan untuk
penilaian kompetensi sikap,
pengetahuan, dan keterampilan sebagai berikut:
a. Penilaian kompetensi sikap
Pendidik
melakukan penilaian kompetensi sikap
melalui observasi, penilaian diri, penilaian
“teman sejawat”(peer evaluation) oleh peserta didik
dan jurnal. Instrumen yang digunakan
untuk observasi, penilaian diri, dan penilaian antar peserta didik adalah
daftar cek atau skala penilaian (ratingscale) yang disertai rubrik, sedangkan pada
jurnal berupa catatan pendidik.
- · Observasi merupakan teknik penilaian yang dilakukan secara berkesinambungan dengan menggunakan indera,baik secara langsung maupun tidak langsung dengan menggunakan pedoman observasi yang berisi sejumlah indikator perilaku yang diamati.
- · Penilaian diri merupakan teknik penilaian dengan cara meminta peserta didik untuk mengemukakan kelebihan dan kekurangan dirinya dalam konteks pencapaian kompetensi. Instrumen yang digunakan berupa lembar penilaian diri.
- · Penilaian antar peserta didik merupakan teknik penilaian dengan cara meminta peserta didik untuk saling menilai terkait dengan pencapaian kompetensi. Instrumen yang digunakan berupa lembar penilaian antar peserta didik.
- · Jurnal merupakan catatan pendidik di dalam dan di luar kelas yang berisi informasi hasil pengamatan tentang kekuatan dan kelemahan peserta didik yang berkaitan dengan sikap dan perilaku.
b. PenilaianKompetensi Pengetahuan
Pendidik menilai kompetensi pengetahuan melalui tes tulis, tes lisan, dan penugasan.
- Instrumen tes tulis berupa soal pilihan ganda,isian,jawaban singkat, benar-salah, menjodohkan, dan uraian .Instrumen uraian dilengkapi pedoman penskoran.
- Instrumen tes lisanberupa daftar pertanyaan.
- Instrumen penugasan berupa pekerjaan rumah dan/atau projek yang dikerjakan secara individu atau kelompok sesuai dengan karakteristik tugas.
Pendidik menilai kompetensi
keterampilan melalui penilaian kinerja, yaitu penilaian yang menuntut peserta
didik mendemonstrasikan suatu kompetensi tertentu dengan
menggunakan tes praktik,
projek, dan penilaian portofolio. Instrumen
yang digunakan berupa daftar cek atau
skala penilaian (rating scale)
yang dilengkapi rubrik.
- Tes praktik adalah penilaian yang menuntut respon berupa keterampilan melakukan suatu aktivitasatau perilaku sesuai dengan tuntutan kompetensi.
- Projek adalah tugas-tugas belajar (learningtasks) yang meliputi kegiatanperancangan, pelaksanaan, dan pelaporan secara tertulis maupun lisan dalam waktu tertentu.
- Penilaian portofolio adalah penilaian yang dilakukan dengan cara menilai kumpulan seluruh karya peserta didik dalam bidang tertentu yang bersifat reflektif-integratif untuk mengetahui minat, perkembangan, prestasi, tertentu. Karya tersebut dapat berbentuk tindakan nyata yang mencerminkan kepedulian peserta didik terhadap lingkungannya.
5 Syarat menyusun alat
penilaian
Membuat pertanyaan tes (alat evaluasi) tidak mudah, sebab tes/pertanyaan
merupakan alat untuk melihat perubahan kemampuan dan tingkah laku siswa setelah
ia menerima pengajaran dari guru/pengajar di sekolah. Alat evaluasi yang salah,
akan menggambarkan kemampuan dan tingkah laku yang salah pula. Oleh karena itu
teknik penyusunan alat evaluasi penting dipertimbangkan agar memperoleh hasil
yang objektif.
Beberapa syarat dan petunjuk yang perlu diperhatikan dalam menyusun alat
evaluasi, ialah:
1. Harus
menetapkan dulu segi-segi apa yang akan dinilai, sehingga betul-betul
terbatas serta dapat
memberi
petunjuk bagaimana dan dengan alat apa segi tersebut dapat kita nilai.
2. Harus
menetapkan alat evaluasi yang betul-betul valid dan reliable, artinya taraf
ketetapan dan
ketetapan
tes sesuai dengan aspek yang akan dinilai.
3. Penilaian
harus objektif, artinya menilai prestasi siswa sebagaimana adanya.
4. Hasil
penilaian tersebut harus betul-betul diolah dengan teliti sehingga dapat
ditafsir berdasarkan kriteria yang berlaku.
5. Alat
evaluasi yang dibuat hendaknya mengandung unsure diagnosis, artinya dapat
dijadikan bahan untuk mencari kelemahan siswa belajar dan guru mengajar.
6 Prinsip
Penilaian
1. Sahih
Penilaian hasil belajar oleh pendidik harus mengukur pencapaian kompetensi
yang ditetapkan dalam standar isi (standar kompetensi dan kompetensi
dasar) dan standar kompetensi lulusan. Penilaian valid berarti menilai apa yang seharusnya dinilai dengan menggunakan alat
yang sesuai untuk mengukur kompetensi.
2. Objektif
Berati
penilaian berbasis pada standar (prosedur daan kriteria yang jelas) dan tidak
dipengaruhi faktor subjektivitas penilai. Agar penilaian objektif, seorang guru
harus berupaya secara optimal untuk memanfaatkan berbagai bukti hasil kerja
peserta didik dari sejumlah penilaian dan membuat keputusan yang
adil tentang penguasaan kompetensi peserta didk dengan mempertimbangkan hasil
kerja peserta didik.
3. Terpadu
Berarti
penilaian oleh pendidik dilakukan secara terencana, menyatu dengan kegiatan
pembelajaran, dan berkesinambungan untuk memantau proses, kemajuan dan
perbaikan hasil dalam bentuk ulangan harian, ulangan tengah semester dan ujian
kenaikan kelas.
4. Ekonomis
Berati
penilaian yang efesien dan efektif dalam perencanaan, pelaksanaan dan
pelaporannya.
5. Transparan
Berarti
prosedur penilaian yang efisien dan efektif dalam perencanaan, pelaksanaan dan
pelaporannya serta dapat diketahui oleh semua pihak yang berkepantingan.
6. Akuntabel
Berati
penilaian dapat dipertanggungjawabkan kepada pihak internal sekolah maupun
eksternal untuk aspek teknik, prosedur dan hasilnya.
7. Sistematis
Berarti
penilaian dilakukan secara berencana dan bertahap dengan mengikuti
langkah-langkah baku.
8. Beracuan
kriteria
Penilaian
hasil belajar oleh guru didasarkan pada standar penilaian dan ukuran pencapain
kompetensi yang telah ditetapkan.
9.
Menyeluruh/kmprehensif
Penilaian
harus menyeluruh dengan menggunakan berbagai macam cara dan alat untuk menilai
beragam kompetensiatau kemampuan peserta didik sehingga tergampar kemampuan
peserta didik.
10. Mendidik
Penilaian
dilakukan untuk memperbaiki proses prmbelajaran bagi guru dan meningkatkan
kualitas belajar bagi peserta didik.
7. Standar
Penilaian Pendidikan Ipa
Penilaian
pembelajaran IPA di sekolah hendaknya mengacu pada suatu standar yang
ditetapkan baik secara nasional maupun internasional. National Research
Council dalam National Committee on Science Education Standards and
Assessment (1996), telah menetapkan National Science Education
Standards (NSES), suatu standar bagi pendidik dalam menilai pendidikan IPA
di semua level pendidikan. Standar nasional pendidikan IPA versi NRC ini
berisi standar konten IPA, standar pedagogi dalam mengajar IPA,
standar profesi, standar program,
standar asesmen, dan standar sistem. Mutu pendidikan
IPA yang baik, harusmemenuhi semua standar tersebut.
Penilaian
standar memberikan kriteria untuk menilai
kemajuan menuju visi pendidikan IPA pada literasi sains untuk semua. Standar
yang menggambarkan kualitas praktek penilaian yang
digunakan oleh guru dan lembaga pemerintah untuk mengukur prestasi dan
memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar IPA. Panduan untuk
mengembangkan penilaian, praktek, dan kebijakan. Standar ini dapat diterapkan
untuk penilaian siswa, guru, program formatif dan sumatif, dan penilaian
eksternal. Sebagai mekanisme umpan balik utama dalam sistem pendidikan sains.
Latar
belakang disusunnya Standar pendidikan IPA ini adalah karena adanya kebutuhan
masyarakat terhadap IPA bukan hanya sekedar ilmu tetapi sebagai sesuatu yang
dapat digunakan untuk bertahan hidup (NRC, 1996). Standar penilaian menyediakan
kriteria untuk menentukan kualitas praktik-pratik penilaian.
Standar penilaian meliputi lima bidang sebagai berikut:
1.
Konsistensi penilaian dengan suatu keputusan merupakan desain untuk
informasi
2. Penilaian
prestasi dan kesempatan untuk belajar sains
3.
Mencocokkan antara kualitas teknis dari kumpulan data dan konsekuensi tindakan yang
perlu
dilakukan berbasis data tersebut
4.
Kejujuran dalam praktik penilaian
5. Ketepatan penarikan kesimpulan
berdasarkan penilaian tentang prestasi siswa dan kesempatan
untuk belajar.
Dalam visi
yang dijelaskan oleh National Science Education Standards, penilaian
adalah mekanisme umpan balik utama dalam sistem pendidikan sains. Standar
penilaian menyediakan siswa dengan umpan balik tentang seberapa baik
mereka memenuhi harapan, guru dengan umpan balik tentang seberapa baik siswa
mereka belajar, sekolah dengan umpan balik tentang efektivitas guru dan program
mereka, dan pembuat kebijakan dengan umpan balik tentang seberapa baik
kebijakan bekerja. Umpan balik ini pada gilirannya merangsang perubahan
kebijakan, memandu pengembangan profesional guru, dan mendorong siswa untuk
meningkatkan pemahaman mereka tentang IPA.
7.2. Perubahan Fokus Standar Penilaian
Berdasarkan National
Science Education Standard in the United States (National Research
Council, 1996) perubahan fokus yang terjadi pada standar penilaian
adalah sebagai berikut
Tabel 2.1
Perubahan Fokus Standar Penilaian
Hal yang
Dikurangi
|
Hal yang
Diutamakan
|
Menilai yang mudah diukur
|
Menilai yang paling berharga
|
Menilai
pengetahuan yang memiliki
ciri
yang jelas
|
Menilai
pengetahuan yang kaya
dan
berstruktur baik
|
Menilai pengetahuan yang bersifat ilmiah
|
Menilai pemahaman dan pemikiran
Ilmiah
|
Menilai
untuk mempelajari apa
yang
tidak dipahami siswa
|
Menilai
untuk mempelajari apa
yang
dipahami siswa
|
Hanya melakukan penilaian atas pencapaian
|
Menilai pencapaian dan peluang untuk belajar
|
Penilaian akhir dilakukan oleh guru
|
Siswa terlibat dalam penilaian yang
sedang berlangsung
atas hasil kerjanya dan hasil kerja temannya
|
Pengembangan
penilaian eksternal hanya oleh ahli
|
Guru
terlibat dalam pengembangan penilaian eksternal
|
Proses
penilaian adalah alat yang efektif untuk mengkomunikasikan harapan
sistem pendidikan IPA untuk semua pihak yang terkait dengan pendidikan IPA.
Praktek penilaian dan kebijakan memberikan definisi operasional apa yang
penting untuk dilakukan. Misalnya, penggunaan dari proses
penyelidikan/inquiri untuk penilaian tugas siswa dari apa yang sedang
dipelajari, bagaimana guru mengajar, dan dimana sumber daya yang harus
dialokasikan.
Penilaian
adalah sistematis, proses tahapan yang melibatkan pengumpulan dan interpretasi
data pendidikan. Standar penilaian meliputi empat komponen dapat dikombinasikan
dalam berbagai cara. Misalnya, guru menggunakan data prestasi siswa untuk
merencanakan dan memodifikasi praktik pengajaran. Berbagai kegunaan, pengguna,
metode, dan data berkontribusi terhadap kompleksitas dan pentingnya penilaian
proses.
8. Rubik
Menurut
Abdul Majid (2013) Rubrik penilaian merupakan kunci penskoran yang
menggambarkan berbagai tingkat kualitas kemampuan dari yang sempurna
sampai yang kurang untuk menilai satu tugas , keterampilan proyek, esai ,
laporan penelitian atau kinerja spesifik.
Rubrik merupakan panduan penilaian yang menggambarkan kriteria yang
diinginkan guru dalam menilai atau memberi tingkatan dari hasil pekerjaan
siswa Rubrik perlu memuat daftar karakteristik yang diinginkan yang perlu
ditunjukkan dalam suatu pekerjaan siswa disertai dengan panduan untuk
mengevaluasi masing-masing karakteristik tersebut.
Rubrik
merupakan pedoman kerja untuk siswa dan guru. Idealnya rubrik diberikan kepada
siswa sebelum tugas dilakukan agar siswa memahami kriteria yang digunakan untuk
menilai hasil kerja mereka.
Menurut
Abdul Majid (2013) Keuntungan yang dapat diperoleh bila guru menggunakan rubrik
diantaranya :
1. Guru dapat
meningkatkan kualitas pembelajaran dengan fokus, penekanan, dan perhatian pada
rincian tertentu sebagai modal pengetahuan
untuk siswa
2. Siswa
mempunyai pedoman yang jelas mengenai apa yang diharapkan guru
3. Siswa dapat
menggunakan rubrik sebagai alat untuk mengembangkan kemampuannya
4. Guru dapat
menggunakan kembali rubrik tersebut untuk berbagai kegiatan berikutnya
yang sejenis.
Dari uraian di atas maka timbul beberapa pertanyaan dari penulis,
1. Apakah sistem penilaian diatas ini sudah merupakan tolak ukur dalam mengevaluasi siswa atau masih ada sistem penilaian lainnya ?
2. Setiap siswa mempunyai pemahaman yang berbeda-beda ada yang pintar di bidang lisan dan ada yang pintar di bidang tulisan serta ada juga yang pintar di bidang praktikum, apakah sistem penilaiannya sama saja atau ada sistem penilaian lainnya yang harus diterapkan untuk mengevaluasi siswa dalam belajar sains ?
Menanggapi soal no 2.
BalasHapusMengenai sistem penilaian, selain dari ketiga penilaian di atas ada juga penilaian lain yang bisa digunakan, yaitu :TES PERBUATAN. Tes perbuatan yakni tes yang penugasannya disampaikan dalam bentuk lisan atau tertulis dan pelaksanaan tugasnya dinyatakan dengan perbuatan atau unjuk kerja. Penilaian tes perbuatan dilakukan sejak peserta didik melakukan persiapan, melaksanakan tugas, sampai dengan hasil yang dicapainya.
Untuk menilai tes perbuatan pada umumnya diperlukan sebuah format pengamatan, yang bentuknya dibuat sedemikian rupa agar pendidik dapat menuliskan angka-angka yang diperolehnya pada tempat yang sudah disediakan. Bentuk formatnya dapat disesuaikan menurut keperluan. Untuk tes perbuatan yang sifatnya individual, sebaiknya menggunakan format pengamatan individual. Untuk tes perbuatan yang dilaksanakan secara kelompok digunakan format tertentu yang sudah disesuaikan untuk keperluan pengamatan kelompok.
SELAIN MENGGUNAKAN TEKNIK TES, DALAM PPENILAIAN JUGA BISA DI GUNAKAN TEKNIK NON TES. DIMANA TEKNIK NON TES INI sangat penting dalam mengevaluasi siswa pada ranah afektif dan psikomotor, berbeda dengan teknik tes yang lebih menekankan asfek kognitif. Ada beberapa macam teknik non-tes, yakni:
a. Observasi
Observasi adalah suatu proses pengamatan dan pencatatan secara sistematis, logis, objektif, dan rasional mengenai berbagai fenomena untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam evaluasi pembelajaran, observasi dapat digunakan untuk menilai proses dan hasil belajar peserta didik, seperti tingkah laku peserta didik pada waktu belajar, berdiskusi, mengerjakan tugas, dan lain-lain. Alat yang digunakan untuk melakukan observasi disebut pedoman observasi
b.Wawancara
Wawancara merupakan salah satu bentuk alat evaluasi jenis non-tes yang dilakukan melalui percakapan dan tanya jawab, baik secara langsung maupun tidak langsung.
c.Angket (Quetioner)
Angket adalah sebuah daftar pertanyaan yang harus diisi oleh orang yang akan diukur (responden). Angket adalah alat penilaian hasil belajar yang berupa daftar pertanyaan tertulis untuk menjaring informasi tentang sesuatu. Angket umumnya dipergunakan pada ranah afektif.
d. Daftar Cek (Check List)
Daftar cek adalah deretan pertanyaan singkat dimana responden yang dievaluasi tinggal membubukan tanda centang (√) pada aspek yang diamati sesuai dengan hasil penilaiannya
Assalamualaikum wr.wb
BalasHapusSaya mencoba menjawab pwrtanyaan yang terakhir.
Seorang guru dituntut untuk menguasai kemampuan memberikan penilaian kepada peserta didiknya. Kemampuan ini adalah kemampuan terpenting dalam evaluasi pembelajaran. Dari penilaian itulah seorang guru dapat mengetahui kemampuan yang telah dikuasai oleh para peserta didiknya.kalau menurut saya selain penilaian di atas Ditinjau dari tekniknya, penilaian dibagi menjadi dua yaitu tes dan non tes.untuk yang tes itu ada tes lisan,tes tertulis dan tes praktik.sedangkan untuk non tes itu pengamtan,penugasan,produk dan portofolio
Terima kasih
terimakasih artikelnya pak, pembahasan yang cukup padat. saya tertarik menanggapi pertanyaan terakhir mengenai siswa mempunyai pemahaman yang berbeda-beda ada yang pintar di bidang lisan, tulisan serta praktikum, apakah sistem penilaiannya sama saja atau ada sistem penilaian lainnya yang harus diterapkan untuk mengevaluasi siswa dalam belajar sains? dalam 1 proses pembelajaran maka dilakuakn penilaian yang sama terhadap semua siswa dengan instrumen yang sama, tidak ada perbedaannya walaupun siswa A pintar parktikum, B ujian tulis, dll. dalam pembelajaran guru harus membimbing siswa untuk mencapai tujuannya, jika siswanya kurang pintar dalam praktek, maka bimbing siswa tersebut agar intar dalam praktek. terimakasih
BalasHapusterima kasih. saya akan menjawab pertanyaan terakhir. menurut saya penilaian dalam kurikulum yang berlaku di indonesia sekarang (K13) meliputi 3 aspek:
BalasHapus1. pengetahuan 2. sikap 3. keterampilan
ditinjau dari sistem penilaian menurut sya sma saja karena sudah diatur dalam K13. akan tetapi proses penilaian yang yang berbeda. salah satu contoh. guru dipandang bertanggung jawab dalam menilai siswa akan tetapi sarana prasarana ditidak memadai. disini lah peran guru harus akuntabel dalam menilai.
Assalamualaikum wr.wb menurut pendapat saya dalam proses penilaian ada 3 aspek penilaian yaitu aspek kognitif,afektif, dan psikomotorik dengan teknik penilaian yang berbeda pada masing-masing aspek
BalasHapusKemampuan yg berbeda. Maka penilaian jga berbeda. Ada 3 aspek dlm penilaian. 1. Penilaian pengetahuan : anak yg pintar tertulis bisa di nilai dgn aspek ini. 2. Penilaian pengetahuan : anak yg pintr lisan maka kemampuan pengetahuannya baik. Sedangkan anak yg baik dlam pratikumnya bisa d nilai dgn aspek yg 3. Penilaian sikap atau keterampilan. Dmna saat pratikum ktrampilan ini sgt d btuhkan..
BalasHapussaya mencoba menanggapi pertanyaan no 2. menurut saya dalam proses penilaian ada 3 aspek penilaian yaitu aspek kognitif,afektif, dan psikomotorik dan dalam proses penilaiannya terhadap semua siswa tetap sama apapun instrumen yg trdpt didalamnya.peran gurulah yang dibutuhkan agar dapat membimbng siswa yg sekiranya kurang dalam satu bidang,sehingga siswa mempunya perkembngan dalam bidang yg kurng trsbt.terimakasih ^_^
BalasHapusAssalamualaikum wr wb
BalasHapusSaya akan menanggapi pertanyaan no 2.
Pada kurikulum 2013 terdapat 3 ranah penilaian yaitu :
a. Aspek Kognitif merupakan penilaian pada aspek pengetahuan.Siswa yang memiliki kemampuan tulisan dan lisan akan menonjol pada aspek ini.
b. ASpek afektif merupakan penilaian pada aspek sikap. Aspek penilaian ini akan berfokus pada berbagai tinggkah laku siswa.
c. Aspek Psikomotor berkaitan dengan keterampilan atau kemampuan bertindak setelah seseorang menerima pengalaman belajar tertentu. Siswa yang memiliki keterampilan praktikum akan memperoleh penilaian pada aspek ini.
Ketiga Aspek ini mempunyai proses pelakasanaan penilaian yang berbeda-beda yang telah diatur pada kurikulum 2013.Jadi setiap kemampuan anak akan mendpatkan penilaian dari aspek yang berbeda-beda dalam satu proses pembelajaran.
Menanggapi pertanyaan nomor 2. Setiap siswa mempunyai pemahaman yang berbeda-beda ada yang pintar di bidang lisan dan ada yang pintar di bidang tulisan serta ada juga yang pintar di bidang praktikum, apakah sistem penilaiannya sama saja atau ada sistem penilaian lainnya yang harus diterapkan untuk mengevaluasi siswa dalam belajar sains ?
BalasHapusSecara umum sistem penilaiannya selama ini sama saja. Namun guru juga perlu berimprovisasi bagaimana memberikan penilaian kepada siswa. Dalam memberikan penilaian, guru bisa sambil mengamati kelebihan yang dimiliki siswanya. Sehingga kompetensi dan potensi diri siswa mampu dikembangkan.
Sy mencoba menanggapi pertanyaan kedua dimana dalam penilaian k13 terdapat 3 aspek yg harus dipenuhi yaitu kognitif, afektif dan psikomotor.
BalasHapusJadi setiap siswa dng keberagaman berbeda akan mendapatkan teknik penilaian yg sama yg telah dibuat dalam bentuk rubrik penilaian. Dari ketiga aspek tersebut akan diperoleh nilai rata rata siswa.
Sy mencoba menanggapi pertanyaan kedua dimana dalam penilaian k13 terdapat 3 aspek yg harus dipenuhi yaitu kognitif, afektif dan psikomotor.
BalasHapusJadi setiap siswa dng keberagaman berbeda akan mendapatkan teknik penilaian yg sama yg telah dibuat dalam bentuk rubrik penilaian. Dari ketiga aspek tersebut akan diperoleh nilai rata rata siswa.
saya akan mencoba menggapi pertanyaan kedua, tiap siswa mendapatkan sistem penilaian yang sama yaitu dalam aspek kognitif, afektif dan psikomotor, jikalau ada yang bisa lebih baik dibidang tulisan bisa dikasih motivasi untuk lebih berani berargumen secara lisan, jika anak tersebut lebih baik dibidang lisan, kita sebagai guru menuntun mereka untuk lebih banyak menulis, sekali lagi ini kembali lagi ke gurunya yang harus kreatif dalam menghadapi perbedaan setiap anak didik
BalasHapusSetiap siswa mempunyai pemahaman yang berbeda-beda ada yang pintar di bidang lisan dan ada yang pintar di bidang tulisan serta ada juga yang pintar di bidang praktikum, apakah sistem penilaiannya sama saja atau ada sistem penilaian lainnya yang harus diterapkan untuk mengevaluasi siswa dalam belajar sains ? disini sya coba menangga pi dari sudut pandang kita menghadapinya, artinya kita jangan membiarkan siswa cakapdalam satu aspek, atinya padukan ketika aspek tersebuat sehingga penialian nanti lebih mudah, dengan dipadukan 3 aspek kecakapan siswa , baik lisan tulisan dan praktik kan menjadikan siswa yaqng lebih aktif kreatiaf, taka da yang pertama namun tak pula dijadikan kedua dan ketiga, harus seirinbg seirama.
BalasHapusSaya akan menanggapi oertanyaan ke 2
BalasHapusSetiap siswa mempunyai pemahaman yang berbeda-beda ada yang pintar di bidang lisan dan ada yang pintar di bidang tulisan serta ada juga yang pintar di bidang praktikum, apakah sistem penilaiannya sama saja atau ada sistem penilaian lainnya yang harus diterapkan untuk mengevaluasi siswa dalam belajar sains ?
Dalam penilaian terutama pada kurikulum 2013 ini ada 3 aspek yang dituntut : 1. pengetahuan 2. sikap 3. keterampilan berarti siswa dituntut untuk menguasai ketiga aspek tersebut untuk menjadikan siswa memiliki kecakapan pada semua bidang nah disinilah peran guru sebagai fasilitator dalam pencapaian ke tiga aspek tersebut.
dalam mengevaluasi tentunya kita harus melihat kondisi siswa dari kinerja, kognitif, serta afektifnya. saat meninjau ketiganya menjadi alasan dasar untuk diterapkan pada evaluasi siswa dalam belajar sains.
BalasHapusSalam
Agung Laksono
Assalamualaikum, saya akan menjawab pertanyaan nomr 1,
BalasHapusArtikel yang sangat bagus, membahas dengan gamblang mengenai menilai.
Menurut saya, tidak ada prinsip lain dalam menilai, apa yang di sebutkan, adalah yang terbaik diantara semua pilihan kata, namun, yang di atas, tidak menjadi tolak ukur dalam menilai, beberapa poin bisa saja dilanggar dalam menilai, seperti objektif, berubah menjadi subjektif, perubahan tersebut terjadi mengingat adanya perbedaan antara apa yang diharapkan dengan apa yang ada di lapangan, sehingga beberapa poin dilanggar, dan nilai dikeluarkan tetap sah, mengingat fakta apa yang ada dilapangan.
Terimakasih artikel yang menarik.
BalasHapusMenurut saya untuk pertanyaan no 2.Setiap siswa mempunyai pemahaman yang berbeda-beda ada yang pintar di bidang lisan dan ada yang pintar di bidang tulisan serta ada juga yang pintar di bidang praktikum, apakah sistem penilaiannya sama saja atau ada sistem penilaian lainnya yang harus diterapkan untuk mengevaluasi siswa dalam belajar sains ?
Menurut sya sistem penilaiannya sama saja, karna guru tidak mngkin membuat instrumen untuk satu satu siswa krna kemampuan siswa yg berbeda.
Assalamualaikum saya mencoba menjawab oertanyaan nomor 2, menurut saya Penilaian memiliki tujuan untuk mengukur keberhasilan pembelajaran sehingga bermanfaat bagi siswa, yaitu untuk mengukur sejauh mana siswa mampu menyerap materi yang telah disampaikan. Sedangkan bagi guru, penilaian bermanfaat untuk umpan balik dari hasil pembelajaran yang teleh disampaikan dan untuk laporan kepeda orang tua siswa dan guru sendiri di setiap akhir semester, yang dituangkan dalam buku raport. dan dari ketiga penilaian tersebut bagaimana cara nilainya itu sama saja bertujuan seperti yang saya jelaskan di atas. Terima.Kasih
BalasHapuswasalamualaikum
menggapi pertanyaan nomor 2, tidak masalah siswa memiliki kecerdasan yang berbeda2 krn aspek penilaian yang dilakukan guru ada 3 aspek yaitu aspek kognitif,afektif, dan psikomotorik dengan teknik penilaian yang berbeda pada masing-masing aspek, dan instrumen yang digunakan pun berbeda2 tergantung Keterampilan apa yang ingin di lihat oleh guru,
BalasHapusmencoba menjawab pertanyaan nomor 2, Setiap siswa mempunyai pemahaman yang berbeda-beda, apakah sistem penilaiannya sama saja atau ada sistem penilaian lainnya yang harus diterapkan untuk mengevaluasi siswa dalam belajar sains? menurut saya secara umum sistem penilaiannya sama saja, namun ada penilaian secara khusus yang dilakukan oleh seorang guru.
BalasHapus