MODEL-MODEL PEMBELAJARAN KHUSUS
SAINS
Gunter et al (1990:67)
mendefinisikan an instructional model is a step-by-step procedure that leads
to specific learning outcomes. Joyce & Weil (1980) mendefinisikan model
pembelajaran sebagai kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman dalam
melakukan pembelajaran. Dengan demikian, model pembelajaran merupakan
kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam
mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar. Jadi
model pembelajaran cenderung preskriptif, yang relatif sulit dibedakan
dengan strategi pembelajaran. An instructional strategy is a method for
delivering instruction that is intended to help students achieve a learning
objective (Burden & Byrd, 1999:85). Selain memperhatikan
rasional teoretik, tujuan, dan hasil yang ingin dicapai, model pembelajaran
memiliki lima unsur dasar (Joyce & Weil (1980), yaitu
(1) syntax,
yaitu langkah-langkah operasional pembelajaran,
(2) social
system, adalah suasana dan norma yang berlaku dalam pembelajaran,
(3) principles of reaction, menggambarkan
bagaimana seharusnya guru memandang, memperlakukan, dan merespon siswa,
(4) support
system, segala sarana, bahan, alat, atau lingkungan belajar yang mendukung pembelajaran, dan
(5) instructional
dan nurturant effects—hasil belajar yang diperoleh langsung berdasarkan tujuan yang disasar (instructional
effects) dan hasil belajar di luar yang
disasar (nurturant effects).
Berikut diberikan lima contoh model
pembelajaran yang memiliki kecenderungan berlandaskan paradigma
konstruktivistik, yaitu:
1. Model Reasoning and Problem
Solving
Di abad pengetahuan ini, isu mengenai
perubahan paradigma pendidikan telah gencar didengungkan, baik yang menyangkut content
maupun pedagogy. Perubahan tersebut meliputi kurikulum,
pembelajaran, dan asesmen yang komprehensif (Krulik & Rudnick, 1996).
Perubahan tersebut merekomendasikan model reasoning and problem solving
sebagai alternatif pembelajaran yang konstruktif. Rasionalnya, bahwa
kemampuan reasoning and problem solving merupakan keterampilan
utama yang harus dimiliki siswa ketika mereka meninggalkan kelas untuk memasuki
dan melakukan aktivitas di dunia nyata.
Reasoning merupakan
bagian berpikir yang berada di atas level memanggil (retensi), yang meliputi: basic
thinking, critical thinking, dan creative thinking. Termasuk basic
thinking adalah kemampuan memahami konsep. Kemampuan-kemapuan critical
thinking adalah menguji, menghubungkan, dan mengevaluasi aspek-aspek
yang fokus pada masalah, mengumpulkan dan mengorganisasi informasi, memvalidasi
dan menganalisis informasi, mengingat dan mengasosiasikan informasi yang
dipelajari sebelumnya, menentukan jawaban yang rasional, melukiskan kesimpulan
yang valid, dan melakukan analisis dan refleksi. Kemampuan-kemampuan creative
thinking adalah menghasilkan produk orisinil, efektif, dan kompleks,
inventif, pensintesis, pembangkit, dan penerap ide.
Problem adalah
suatu situasi yang tak jelas jalan pemecahannya yang mengkonfrontasikan
individu atau kelompok untuk menemukan jawaban dan problem solving adalah
upaya individu atau kelompok untuk menemukan jawaban berdasarkan pengetahuan,
pemahaman, keterampilan yang telah dimiliki sebelumnya dalam rangka memenuhi
tuntutan situasi yang tak lumrah tersebut (Krulik & Rudnick, 1996). Jadi aktivitas
problem solving diawali dengan konfrontasi dan berakhir apabila sebuah
jawaban telah diperoleh sesuai dengan kondisi masalah. Kemampuan pemecahan
masalah dapat diwujudkan melalui kemampuan reasoning.
Model reasoning and problem solving dalam
pembelajaran memiliki lima langkah pembelajaran (Krulik & Rudnick, 1996),
yaitu:
(1) membaca dan berpikir (mengidentifikasi fakta
dan masalah, memvisualisasikan situasi, mendeskripsikan seting pemecahan,
(2) mengeksplorasi dan merencanakan
(pengorganisasian informasi, melukiskan diagram pemecahan, membuat tabel,
grafik, atau gambar),
(3) Menseleksi
strategi (menetapkan pola, menguji pola, simulasi atau eksperimen, reduksi atau
ekspansi, deduksi logis, menulis persamaan),
(4) menemukan jawaban (mengestimasi, menggunakan keterampilan
komputasi, aljabar, dan geometri),
(5) refleksi dan perluasan (mengoreksi jawaban,
menemukan alternatif pemecahan lain, memperluas konsep dan generalisasi, mendiskusikan
pemecahan, memformulasikan masalah-masalah variatif yang orisinil).
2. Model Inquiry Training
Untuk model ini, terdapat tiga prinsip
kunci, yaitu pengetahuan bersifat tentatif, manusia memiliki sifat ingin tahu
yang alamiah, dan manusia mengembangkan indivuality secara mandiri.
Prinsip pertama menghendaki proses penelitian secara berkelanjutan, prinsip
kedua mengindikasikan pentingkan siswa melakukan eksplorasi, dan yang ketiga— kemandirian,
akan bermuara pada pengenalan jati diri dan sikap ilmiah.
Model inquiry training memiliki
lima langkah pembelajaran (Joyce & Weil, 1980), yaitu:
(1) menghadapkan masalah (menjelaskan prosedur
penelitian, menyajikan situasi yang saling bertentangan),
(2) menemukan masalah (memeriksa hakikat
obyek dan kondisi yang dihadapi, memeriksa tampilnya masalah),
(3) mengkaji data dan eksperimentasi (mengisolasi
variabel yang sesuai, merumuskan hipotesis),
(4) mengorganisasikan, merumuskan, dan
menjelaskan, dan
(5) menganalisis proses penelitian untuk
memperoleh prosedur yang lebih efektif.
3. Model Problem-Based Instruction
Problem-based instruction adalah
model pembelajaran yang berlandaskan paham konstruktivistik yang mengakomodasi
keterlibatan siswa dalam belajar dan pemecahan masalah otentik (Arends et al.,
2001). Dalam perolehan informasi dan pengembangan pemahaman tentang
topik-topik, siswa belajar bagaimana mengkonstruksi kerangka masalah, mengorganisasikan
dan menginvestigasi masalah, mengumpulkan dan menganalisis data, menyusun
fakta, mengkonstruksi argumentasi mengenai pemecahan masalah, bekerja secara
individual atau kolaborasi dalam pemecahan masalah.
Model problem-based instruction memiliki
lima langkah pembelajaran (Arend et al., 2001), yaitu:
(1) guru
mendefisikan atau mempresentasikan masalah atau isu yang berkaitan (masalah
bisa untuk satu unit pelajaran atau lebih, bisa untuk pertemuan satu, dua, atau
tiga minggu, bisa berasal dari hasil seleksi guru atau dari eksplorasi siswa),
(2) guru membantu siswa mengklarifikasi
masalah dan menentukan bagaimana masalah itu diinvestigasi (investigasi
melibatkan sumber-sumber belajar, informasi, dan data yang variatif, melakukan
surve dan pengukuran),
(3) guru membantu siswa menciptakan makna terkait
dengan hasil pemecahan masalah yang akan dilaporkan (bagaimana mereka memecahkan
masalah dan apa rasionalnya),
(4) pengorganisasian laporan (makalah, laporan
lisan, model, program komputer, dan lain-lain), dan
(5) presentasi (dalam kelas melibatkan semua
siswa, guru, bila perlu melibatkan administator dan anggota masyarakat).
4. Model Pembelajaran Perubahan Konseptual
Pengetahuan yang telah dimiliki oleh
seseorang sesungguhnya berasal dari pengetahuan yang secara spontan diperoleh
dari interaksinya dengan lingkungan. Sementara pengetahuan baru dapat bersumber
dari intervensi di sekolah yang keduanya bisa konflik, kongruen, atau
masing-masing berdiri sendiri. Dalam kondisi konflik kognitif, siswa dihadapkan
pada tiga pilihan, yaitu:
(1)
Mempertahankan
intuisinya semula,
(2)
Merevisi
sebagian intuisinya melalui proses asimilasi, dan
(3)
Merubah
pandangannya yang bersifat intuisi tersebut dan mengakomodasikan pengetahuan
baru.
Model pembelajaran perubahan konseptual
memiliki enam langkah pembelajaran (Santyasa, 2004), yaitu:
(1)
Sajian masalah konseptual dan kontekstual,
(2)
Konfrontasi
miskonsepsi terkait dengan masalah-masalah tersebut,
(3)
konfrontasi sangkalan berikut strategi-strategi
demonstrasi, analogi, atau contoh- contoh tandingan,
(4)
Konfrontasi
pembuktian konsep dan prinsip secara ilmiah,
(5)
konfrontasi materi dan contoh-contoh kontekstual,
(6)
konfrontasi pertanyaan-pertanyaan untuk
memperluas pemahaman dan penerapan pengetahuan secara bermakna.
5. Model Group Investigation
Ide model pembelajaran geroup
investigation bermula dari perpsektif filosofis terhadap konsep belajar.
Untuk dapat belajar, seseorang harus memiliki pasangan atau teman. Pada tahun
1916, John Dewey, menulis sebuah buku Democracy and Education (Arends,
1998). Dalam buku itu, Dewey menggagas konsep pendidikan, bahwa kelas seharusnya
merupakan cermin masyarakat dan berfungsi sebagai laboratorium untuk belajar
tentang kehidupan nyata. Pemikiran Dewey yang utama tentang pendidikan (Jacob, et
al., 1996), adalah:
(1)
siswa hendaknya aktif, learning by doing;
(2)
belajar
hendaknya didasari motivasi intrinsik;
(3)
pengetahuan adalah berkembang, tidak bersifat
tetap;
(4)
kegiatan
belajar hendaknya sesuai dengan kebutuhan dan minat siswa;
(5)
pendidikan harus mencakup kegiatan
belajar dengan prinsip saling memahami dan saling menghormati satu sama lain,
artinya prosedur demokratis sangat penting;
(6) kegiatan belajar hendaknya berhubungan
dengan dunia nyata.
Gagasan-gagasan Dewey akhirnya
diwujudkan dalam model group-investigation yang kemudian dikembangkan
oleh Herbert Thelen. Thelen menyatakan bahwa kelas hendaknya merupakan
miniatur demokrasi yang bertujuan mengkaji masalah-masalah sosial antar
pribadi (Arends, 1998). Model group-investigation memiliki enam langkah
pembelajaran (Slavin, 1995), yaitu:
(1) grouping
(menetapkan jumlah anggota kelompok, menentukan sumber, memilih topik,
merumuskan permasalahan),
(2)
Planning (menetapkan
apa yang akan dipelajari, bagaimana mempelajari, siapa melakukan apa, apa tujuannya),
(3)
investigation (saling
tukar informasi dan ide, berdiskusi, klarifikasi, mengumpulkan informasi,
menganalisis data, membuat inferensi),
(4)
organizing (anggota
kelompok menulis laporan, merencanakan presentasi laporan, penentuan
penyaji, moderator, dan notulis),
(5)
presenting (salah
satu kelompok menyajikan, kelompok lain mengamati, mengevaluasi, mengklarifikasi,
mengajukan pertanyaan atau tanggapan), dan
(6) evaluating (masing-masing
siswa melakukan koreksi terhadap laporan masing-masing berdasarkan hasil
diskusi kelas, siswa dan guru berkolaborasi mengevaluasi pembelajaran yang
dilakukan, melakukan penilaian hasil belajar yang difokuskan pada pencapaian pemahaman.
Dari uraian
diatas timbul beberapa pertanyaan :
1. apakah sama model pembelajaran
khusus sains dengan model pembelajaran lainnya?
2. Dari 5 model pembelajaran diatas
yang mana lebih cocok di gunakan dalam pembelajaran IPA khususny untuk
Kurikulum 2013 ?
3. Dari masing-masing model
pembelajaran diatas apakah ada kelebihan dan kekurangannya ?
Saya Menyikapi no 2?
BalasHapusModel Reasoning and Problem Solving karena Di abad pengetahuan ini, isu mengenai perubahan paradigma pendidikan telah gencar didengungkan, baik yang menyangkut content maupun pedagogy. Perubahan tersebut meliputi kurikulum, pembelajaran, dan asesmen yang komprehensif Perubahan tersebut merekomendasikan model reasoning and problem solving sebagai alternatif pembelajaran yang konstruktif. Rasionalnya, bahwa kemampuan reasoning and problem solving merupakan keterampilan utama yang harus dimiliki siswa ketika mereka meninggalkan kelas untuk memasuki dan melakukan aktivitas di dunia nyata.
Terimakasih saudara reri atas ulasan yg cukup padat. Pertanyaan terakhir saudara menanyakan apakah model2 yg tertera di penjelasan saudara tersebut mempunyai kelebihan dan kekurangan? Menurut saya setiap model pasti mempunyai kelebihan masing-masing, begitupun dengan kekurangannya. Tidak bisa kita pungkiri bahwa model pembelajaran sering kita temukan plus dan minusnya. Untuk mengetahui kelebihan dan kekurangannya, saya rasa bisa sama2 kita search di google ataupun di buku model pembelajaran. Sudah banyak tercantun. Terimakasih..
BalasHapusAssalamualaikum wr.wb
BalasHapusDari 5 model pembelajaran diatas yang mana lebih cocok di gunakan dalam pembelajaran IPA khususny untuk Kurikulum 2013 ?
Kalau menurut saya semua model nya bagus untuk digunakan dalam pembelajaran IPA tinggal di tambahkan lagi dengan strategi.metode dan pendekatan apa yang bagus untuk digunakan oleh guru dalam pembelajaran.
Terima kasih
jawaban untuk no 2
BalasHapusmenurut saya sebenarnya semua model pembelajaran bisa digunkan dalam pelajaran IPA khusus ny Kurikulum 2013, tapi yang lebih mendekati adalah Model Problem-Based Instruction.
terimak kasih
Assalamualaikum wr.wb, menurut pendapat saya model pembelajaran khusus sains adalah pembelajaran yang disarankan digunakan dalam pembelajaran tidak menutup kemungkinan menggunakan model pembelajaran lainnya yang dapat disesuaikan dengan kondisi disekolah
BalasHapusMenanggapi pertanyaan nomor 2 Dari 5 model pembelajaran diatas yang mana lebih cocok di gunakan dalam pembelajaran IPA khususny untuk Kurikulum 2013 yaitu model Inquiry. karena model Inquiry secara tidak langsung telah tercakup pendekatan scientifik.
BalasHapusModel Reasoning and Problem Solving, Model Inquiry, Model Problem-Based Instruction, Model Pembelajaran Perubahan Konseptual, Model Group Investigation. Kelima model tersebut tersebut dapat digunakan dalam pembelajaran seperti pelajaran Pendidikan agama dan budi pekerti, Pendidikan Jasmani, IPS untuk penerapannya sesuai dengan inovasi guru dalam proses pembelajaranya.
BalasHapusSalam
Agung Laksono
Menanggapi soal no 1.
BalasHapusMenurut saya, model pembelajaran khusus sains tersebut, bisa juga di terapkan pada mat pelajaran lain.
Tetapi guru harus menyesuaikan dengan materinya terlebih dahulu. Agar bisa sinkron antara materi dengan model yang di gunakan.
Assalamualaikum wr wb
BalasHapusSaya menanggapi pertanyaan no 3. setiap model pembelajaran tentunya mempunyai kelebihan dan kekurangan nya masing-masing, bisa kita baca pada berbagai buku, jurnal dan berbagai sumber lainya yang membahas ulasan mengenai kelebihan dan kekurangan model-model pembelajaran.
Dari pertanyaan nomor 1. apakah sama model pembelajaran khusus sains dengan model pembelajaran lainnya?
BalasHapusSaya mencoba menanggapi. menurut saya berbeda, meskipun model ini juga layak diterapkan untuk pembelajaran selain sains. Sebuah model pembelajaran yang tepat biasanya dirancang dengan berbagai tujuan serta memiliki kesesuaian dengan materi yang akan diajarkan. Maka meskipun tidak sama, tapi masih fleksibel dalam penerapannya,.
saya akan mencoba menjawab pertanyaan no 3.Dari masing-masing model pembelajaran diatas apakah ada kelebihan dan kekurangannya ?
BalasHapussetiap model pembelajaran tentunya mempunyai kekurangan dan kelebihan masing-masing, untuk mengetahui model tersebut terdapat kekurangan dan kelebihan kita dapat melihatnya dari berbagai sumber seperti buku,jurnal atau mengaksesnya diinternet.terimakasih ^_^
Saya akan menanggapi pertanyaan no 1 "apakah sama model pembelajaran khusus sains dengan model pembelajaran lainnya?" Menurut saya Umumnya model pembelajaran yang digunakan dalam sains (IPA) digunakan pula dalam non IPA, seperti ilmu social atau yang lainnya. Pemilihan model pembelajaran tentu saja disesuaikan dengan karakteristik materi, situasi dan kondisi peserta didik serta sarana dan prasarana pendidikan yang ada. Perlu diketahui tidak ada model pembelajaran yang cocok untuk semua materi, dan didalam pembelajaran suatu materi tertentu dapat saja mengunakan lebih dari satu pendekatan atau metode. Jadi model pembelajaran khas sains tentu berbeda dengan pembelajaran Non Sains. Memiliki kekhasan masing-masing ketika diimplementasikan dalam suatu materi
BalasHapusBaiklah saya akan menjawab pertanyaan no.3
BalasHapusMenurut saya tentu saja setiap model pembelajaran ada kelebihan dan kekurangannya karena perlu kita ingat tidak ada model yang cocok digunakan pada semua situasi dan kondisi maka dari itulah model pembelajaran memiliki berbagai macam bentuk. Mungkin kelebihan dan kekurangannya bisa dilihat pada berbagai macam jurnal dan artikel yang ada. terima kasih
saya akan menanggapi pertanyaan nomor dua. berbicara masalah kecocokan disini saya rasa semua mempunyai potensi cocok ,ini tergentung materi yang di ajarkan .karena menurut saya tidak semua materi sesuai dengan model pembelajaran..
BalasHapusAssalamualaikum, saya mencoba menanggapi pertanyaan nomor satu, apakah ada perbedaan model pembelajaran khusus sains dengan model pembelajaran bukan khusus sains ? menurut saya ada perbedaan karena dari materi pembelajaran juga sudah bebeda, kelebihan dan kekurangan berbeda, kondisi penggunaan juga berbeda, tetapi tidak dipungkiri model pembelajaran bukan khusus sains tidak bisa diterapkan dalam pembelajaran sains, cuman saja apabila kita menggunakan model pembelajaran khusus sains pembelajaran lebih menarik , memotivasi dan efektif di terapkan dalam pembelajaran khususnya Sains.
BalasHapusTerima Kasih, Wasalamualaikum.
sharing untuk pertanyaan nomor 1 pak reri Pada dasarnya model-model pembelajaran K13 adalah model pembelajaran khas sains, tapi juga dikembangkan agar digunakan oleh mata pelajaran selain sains. Hal ini dikarenakan pembelajaran berbasis pendekatan ilmiah mempunyai hasil yang lebih efektif bila dibandingkan dengan penggunaan pembelajaran dengan pendekatan tradisional. yang mana dengan pendekatan sains siswa memperoleh pengetahuan dengan pengalamannya sendiri membuat informasi yg diserapnya menjadi lebih lama disimpan.
BalasHapusSaya menanggapi pertanyaan no 3, iya tentu saja semua model pembelajaran memiliki kelebihan dan kekurangan.
BalasHapusNah sebagai pengajar kita harus bisa memaksimalkan kelebihan dan meminimalkan kekurangan model pembelajaran tersebut.dengan menambah informasi dari artikel , jurnal dan beberapa buku untuk melihat kelebihan dan kekurangan model model tersebut.
Menarik pertanyaan ke 3, disini model2 yg diulas diatas telah memiliki sintak yang jelas, artinya memenuhi kriteria sebagai model pembelajaran, kekuranga dan kelebihan tentu ada, karna tak semua cocok untuk suatu bidang pelajaran... nah kecakapan memilih model adalah kunci utama guru dalam pembelajaran
BalasHapus