Senin, 26 Februari 2018

Efektifitas Model Pembelajaran Kuantum Dalam Pembelajaran Sains



  1. Pengertian
Pembelajaran kuantum merupakan terjemahan dari bahasa asing yaitu quantum learning. “Quantum Learning  adalah kiat, petunjuk, strategi dan seluruh proses belajar yan1g dapat mempertajam pemahaman dan daya ingat, serta membuat belajar sebagai suatu proses yang menyenangkan dan bermanfaat” (Bobbi DePorter & Mike Hernacki, 2011:16 ). Dengan demikian, pembelajaran kuantum dapat dikatakan sebagai model pembelajaran yang menekankan untuk memberikan manfaat yang bermakna dan juga menekankan pada tingkat kesenangan dari peserta didik atau siswa. Selanjutnya, Bobbi DePorter & Mike Hernacki (2011:30) mengungkapkan mengenai karakterisitik dari pembelajaran kuantum (quantum learning) yaitu sebagai berikut.
  1. Pembelajaran kuantum berpangkal pada psikologi kognitif, bukan fisika kuantum meskipun serba sedikit istilah dan konsep kuantum dipakai.
  2. Pembelajaran kuantum lebih bersifat humanistis, bukan positivistis-empiris, “hewan-istis”, dan atau nativistis.
  3. Pembelajaran kuantum lebih bersifat konstruktivis(tis), bukan positivistis-empiris, behavioristis, dan atau maturasionistis.
  4. Pembelajaran kuantum berupaya memadukan (mengintegrasikan), menyinergikan, dan mengkolaborasikan faktor potensi diri manusia selaku pembelajar dengan lingkungan (fisik dan mental) sebagai konteks pembelajaran.
  5. Pembelajaran kuantum memusatkan perhatian pada interaksi yang bermutu dan bermakna, bukan sekadar transaksi makna.
  6. Pembelajaran kuantum sangat menekankan pada pemercepatan pembelajaran dengan taraf keberhasilan tinggi.
  7. Pembelajaran kuantum sangat menekankan kealamiahan dan kewajaran proses pembelajaran, bukan keartifisialan atau keadaan yang dibuat-buat.
  8. Pembelajaran kuantum sangat menekankan kebermaknaan dan kebermutuan proses pembelajaran.
  9. Pembelajaran kuantum memiliki model yang memadukan konteks dan isi pembelajaran. Konteks pembelajaran meliputi suasana yang memberdayakan, landasan yang kukuh, lingkungan yang menggairahkan atau mendukung, dan rancangan belajar yang dinamis.
  10. Pembelajaran kuantum memusatkan perhatian pada pembentukan keterampilan akademis, keterampilan (dalam) hidup, dan prestasi fisikal atau material.
  11. Pembelajaran kuantum menempatkan nilai dan keyakinan sebagai bagian penting proses pembelajaran.
  12. Pembelajaran kuantum mengutamakan keberagaman dan kebebasan, bukan keseragaman dan ketertiban.
  13. Pembelajaran kuantum mengintegrasikan totalitas tubuh dan pikiran dalam proses pembelajaran.
  1. Tujuan
Menurut Bobbi DePorter & Mike Hernacki (2011:12) adapun tujuan dari pembelajaran kuantum (quantum learning) adalah sebagai berikut.
  1. Untuk menciptakan lingkungan belajar yang efektif.
  2. Untuk menciptakan proses belajar yang menyenangkan.
  3. Untuk menyesuaikan kemampuan otak dengan apa yang dibutuhkan oleh otak.
  4. Untuk membantu meningkatkan keberhasilan hidup dan karir.
  5. Untuk membantu mempercepat dalam pembelajaran
Tujuan di atas, mengindikasikan bahwa pembelajaran kuantum mengharapkan perubahan dari berbagai bidang mulai dari lingkungan belajar yaitu kelas, materi pembelajaran yang menyenangkan, menyeimbangkan kemampuan otak kiri dan otak kanan, serta mengefisienkan waktu pembelajaran. Menurut Kompasiana (2010) Lingkungan belajar dalam pembelajaran kuantum terdiri dari lingkungan mikro dan lingkungan makro. Lingkungan mikro adalah tempat siswa melakukan proses belajar, bekerja, dan berkreasi. Lebih khusus lagi perhatian pada penataan meja, kursi, dan belajar yang teratur. Lingkungan makro yaitu dunia luas, artinya siswa diminta untuk menciptakan kondisi ruang belajar di masyarakat. Mereka diminta berinteraksi sosial ke lingkungan masyarakat yang diminatinya, sehingga kelak dapat berhubungan secara aktif dengan masyarakat. Selain itu, Bobbi DePorter,et al., (2004:14) menyatakan mengenai lingkungan dalam konteks panggung belajar. “Lingkungan yaitu cara guru dalam menata ruang kelas, pencahayaan warna, pengaturan meja dan kursi, tanaman, musik, dan semua hal yang mendukung proses belajar”. Jadi, dapat dikatakan bahwa pembelajaran kuantum sangat memperhatikan pengkondisian suatu kelas sebagai lingkungan belajar dari peserta didik mengingat model pembelajaran kuantum merupakan adaptasi dari model pembelajaran yang diterapkan di luar negeri.
  1. Keunggulan dan Kelemahan Model pembelajaran Kuantum (Quantum Learning)
Bobbi DePorter & Mike Hernacki (2011:18-19) dalam bukunya yang berjudul ”Quantum Learning” juga menjelaskan mengenai keunggulan dan kelemahan dari pembelajaran kauntum (quantum learning) yaitu sebagai berikut.
  1. Keunggulan
  2. Pembelajaran kuantum berpangkal pada psikologi kognitif, bukan fisika kuantum meskipun serba sedikit istilah dan konsep kuantum dipakai.
  3. Pembelajaran kuantum lebih bersifat humanistis, bukan positivistis-empiris, “hewan-istis”, dan atau nativistis.
  4. Pembelajaran kuantum lebih konstruktivis(tis), bukan positivistis-empiris, behavioristis.
  5. Pembelajaran kuantum memusatkan perhatian pada interaksi yang bermutu dan bermakna, bukan sekedar transaksi makna.
  6. Pembelajaran kuantum sangat menekankan pada pemercepatan pembelajaran dengan taraf keberhasilan tinggi.
  7. Pembelajaran kuantum sangat menentukan kealamiahan dan kewajaran proses pembelajaran, bukan keartifisialan atau keadaan yang dibuat-buat.
  8. Pembelajaran kuantum sangat menekankan kebermaknaan dan kebermutuan proses pembelajaran.
  9. Pembelajaran kuantum memiliki model yang memadukan konteks dan isi pembelajaran.
  10. Pembelajaran kuantum memusatkan perhatian pada pembentukan keterampilan akademis, keterampilan (dalam) hidup, dan prestasi fisikal atau material.
  11. Pembelajaran kuantum menempatkan nilai dan keyakinan sebagai bagian penting proses pembelajaran.
  12. Pembelajaran kuantum mengutamakan keberagaman dan kebebasan, bukan keseragaman dan ketertiban.
  13. Pembelajaran kuantum mengintegrasikan totalitas tubuh dan pikiran dalam proses pembelajaran.
  14. Kelemahan
  15. Membutuhkan pengalaman yang nyata
  16. Waktu yang cukup lama untuk menumbuhkan motivasi dalam belajar
  17. Kesulitan mengidentifikasi keterampilan siswa
Berdasarkan pemaparan keunggulan dan kelemahan pembelajaran kuantum, pembelajaran kauntum sangat memperhatikan keaktifan serta kreatifitas yang dapat dicapai oleh peserta didik. Pembelajaran kuantum mengarahkan seorang guru menjadi guru yang “baik”. baik dalam arti bahwa guru memiliki ide-ide kreatif dalam memberikan proses pembelajaran, mengetahui dengan baik tingkat kemampuan siswa.
  1. Prinsip Model Pembelajaran Kuantum (Quantum Learning)
Adapun prinsip-prinsip pembelajaran kuantum (quantum learning ) adalah sebagai berikut.
  1. Prinsip utama pembelajaran kuantum berbunyi: Bawalah Dunia Mereka (Pembelajar) ke dalam Dunia Kita (Pengajar), dan Antarkan Dunia Kita (Pengajar) ke dalam Dunia Mereka (Pembelajar).
  2. Dalam pembelajaran kuantum juga berlaku prinsip bahwa proses pembelajaran merupakan permainan orchestra simfoni.
  3. Prinsip-prinsip dasar ini ada lima macam berikut ini :
  4. Ketahuilah bahwa segalanya berbicara
Dalam pembelajaran kuantum, segala sesuatu mulai lingkungan pembelajaran sampai dengan bahasa tubuh pengajar, penataan ruang sampai guru, mulai kertas yang dibagikan oleh pengajar sampai dengan rancangan pembelajaran, semuanya mengirim pesan tentang pembelajaran.
  1. Ketahuilah bahwa segalanya bertujuan
Semua yang terjadi dalam proses pengubahan energy menjadi cahaya mempunyai tujuan. 

      2. Sadarilah bahwa pengalaman mendahului penamaan
Poses pembelajaran paling baik terjadi ketika pembelajar telah mengalami informasi sebelum mereka memperoleh makna untuk apa yang mereka pelajari.

3.Akuilah setiap usaha yang dilakukan dalam pembelajaran
Pembelajaran atau belajar selalu mengandung risiko besar.

4.Sadarilah bahwa sesuatu yang layak dipelajari layak pula dirayakan
Segala sesuatu dipelajari sudah pasti layak pula dirayakan keberhasilannya.

      5. Dalam pembelajaran kuantum juga berlaku prinsip bahwa pembelajaran lurus berdampak bagi terbentuknya keunggulan (Bobbi DePorter, et al., 2004:6-7).
 
Dengan kata lain pembelajaran perlu diartikan sebagai pembentukan keunggulan. Oleh karena itu, keunggulan ini bahkan telah dipandang sebagai jantung fondasi pembelajaran kuantum. Selain membahas mengenai prinsip model pembelajaran kuantum (quantum learning), Bobbi DePorter & Mike Hernacki (2011:76) juga berpendapat mengenai 7 (tujuh)  kunci keunggulan yang diyakini dalam pembelajaran kuantum yaitu sebagai berikut.
  1. Teraplah Hidup dalam Integritas
Dalam pembelajaran, bersikaplah apa adanya, tulus, dan menyeluruh yang lahir ketika nilai-nilai dan perilaku kita menyatu.
  1. Akuilah Kegagalan Dapat Membawa Kesuksesan
Dalam pembelajaran, kita harus mengerti dan mengakui bahwa kesalahan atau kegagalan dapat memberikan informasi kepada kita yang diperlukan untuk belajar lebih lanjut sehingga kita dapat berhasil.
  1. Berbicaralah dengan Niat Baik
Dalam pembelajan, perlu dikembangkan keterampilan berbicara dalam arti positif dan bertanggung jawab atas komunikasi yang jujur dan langsung.
  1. Tegaskanlah Komitmen
Dalam pembelajaran, baik pengajar maupun pembelajar harus mengikuti visi-misi tanpa ragu-ragu, tetap pada rel yang telah ditetapkan.
  1. Jadilah Pemilik
Dalam pembelajaran harus ada tanggung jawab. Tanpa tanggung jawab tidak mungkin terjadi pembelajaran yang bermakna dan bermutu.
  1. Tetaplah Lentur
Dalam pembelajaran, pertahanan kemampuan untuk mengubah yang sedang dilakukan untuk memperoleh hasil yang diinginkan. Pembelajar lebih-lebih , harus pandai-pandai membaca lingkungan dan suasana, dan harus pandai-pandai mengubah lingkungan dan suasana bilamana diperlukan.
  1. Pertahankanlah Keseimbangan
Dalam pembelajaran, pertahanan jiwa, tubuh, emosi, dan semangat dalam satu kesatuan dan kesejajaran agar proses dan hasil pembelajaran efektif dan optimal.
Adapun manfaat yang dapat diperoleh dari pembelajaran kuantum (quantum learning) menurut Bobbi DePorter & Mike Hernacki (2011:13) diantaranya:
  1. Sikap positif
  2. Motivasi
  3. Keterampilan belajar seumur hidup
  4. Kepercayaan diri
  5. Sukses
  1. Sintaks Model Pembelajaran Kuantum (Quuantum Learning)
Sintaks atau langkah model pembelajaran kuantum (quantum learning) yang dikenal dengan sebutan TANDUR Bobbi DePorter,et al.,(2004:10) adalah sebagai berikut :
  1. Tumbuhkan
Tumbuhkan minat dengan memuaskan “Apakah Manfaatnya BagiKu” (AMBAK), dan manfaatkan kehidupan belajar.
  1. Alami
Ciptakan atau datangkan pengalaman umum yang dapat dimengerti semua pelajar.
  1. Namai
Sediakan kata kunci, konsep, model, rumus, strategi, sebuah “masukan”.
  1. Demonstrasikan
Sediakan kesempatan bagi pelajar untuk “menunjukkan bahwa mereka tahu”.
  1. Ulangi
Tunjukkan pelajar cara-cara mengulang materi dan menegaskan, “Aku tahu bahwa aku memang tahu ini”.
  1. Rayakan
Pengakuan untuk penyelesaian, partisipasi, dan pemerolehan keterampilan dan ilmu pengetahuan.
Perayaan dalam pembelajaran kuantum sangat diutamakan atau sangat penting. Perayaan dapat membangun keinginan untuk sukses dalam pembelajaran. Menurut Bobbi DePorter,et al., (2004:31-34), terdapat beberapa bentuk perayaan menyenangkan yang biasa digunakan yaitu:
  1. Tepuk Tangan
Teknik ini terbukti tidak pernah gagal memberikan inspirasi.

      2. Hore! Hore! Hore!
Cara ini sangat mengasyikkan jika dilakukan “bergelombang” ke seluruh ruangan. Caranya adalah guru memberikan aba-aba, semua orang atau siswa melompat berdiri dan berteriak senyaring mungkin, “Hore, Hore, Hore!” sambil mengayunkan tangan ke depan dan keatas.

      3. Wussss
Jika diberi aba-aba, semua orang bertepuk tangan tiga kali secara serentak, lalu mengirimkan segenap energi positif mereka kepada orang yang dituju. Cara melakukannya adalah setelah bertepuk, tangan mendorong kea rah orang tersebut sambil berteriak “Wusssss”.

     4. Jentikan Jari
Jika guru atau pengajar memerlukan pengakuan yang tenang, daripada tepuk tangan, gunakan jentikan jari berkesiinambungan.

     5. Poster Umum
Mengakui individu atau seluruh kelas, misalnya “Kelas Enam The Best!.

     6. Catatan Pribadi
Sampaikan kepada siswa secara perseorangan untuk mengakui usaha keras, sumbangan pada kelas, perilaku atau tindakan yang baik hati.

     7. Persekongkolan
Mengakui seseorang secara tak terduga. Misalnya seluruh kelas dapat bersekongkol untuk mengakui kelas lain dengan cara memasang poster positif (atau surat) misterius yang bertuliskan hal-hal seperti “Kelas VI hebat lho!” atau “Selsangat Menempuh Ujian hari Ini!”.

     8. Kejutan
Kejutan harus terjadi secara acak. Kejutan bukan merupakan hadiah yang diharapkan oleh siswa. Jadikan kejutan tetap sebagai kejutan!.

     9. Pengakuan Kekuatan
Lakukan jika menginginkan orang mendapatkan pengakuan, setelah mereka saling mengenal dengan baik. Cara melakukan adalah atur siswa untuk duduk membentuk tapak kuda, dengan satu kursi (kursi jempol) di bagian terbuka tapal. Setiap orang bergiliran menduduki kursi jempol. Siswa pada kursi jempol tersebut duduk diam sambil mendengarkan dan memperhatikan. Setiap siswa dalam tapal mengakui kekuatan istimewa atau sifat-sifat baik dari siswa yang duduk di kursi jempol. Guru dapat memberikan contoh hingga murid-murid tahu cara melanjutkannya.
Berdasarkann uraian tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa kesenangan peserta didik sangat diperhatikan baik dari cara memberikan penguatan ataupun dari bentuk variasi lingkungan belajar. 


6. Efektifitas Pembelajaran 

Slavin (1995) menjelaskan bahwa keefektifan pembelajaran akan terjadi apabila siswa secara aktif dilibatkan dalam pengorganisasian hubungan-hubungan dari informasi yang diberikan. Selanjutnya Arend (1997) menjelaskan bahwa terdapat 7 ciri keefektifan pembelajaran yaitu :
a. Pembalikan makna belajar; 
b. Berpusat pada siswa; 
c. Belajar dengan mengalami; 
d. Mengembangkan keterampilan sosial, kognitif dan emosional; 
e. Mengembangkan keingintahuan, imajinasi, dan fitrah Tuhan; 
f. Belajar sepanjang hayat; 
g. Perpaduan kemandirian dan sepanjang hayat. 

 7. Efektivitas Model Pembelajaran Quantum dalam Pembelajaran Sains

Sebelum mengetahui strategi pembelajaran Quantum Learning, siswa harus bisa menentukan gaya belajarnya sendiri. Gaya belajar seseorang adalah kombinasi dari bagaimana ia menyerap, dan kemudian mengatur, serta mengolah informasi.Menurut DePorter dan Hernaki dalam Alwiyah(2009: 113), terdapat tiga gaya belajar atau yang disebut dengan modalitas belajar, yaitu sebagai berikut:

1. Visual
Gaya belajar visual adalah belajar dengan cara melihat. Siswa dengan gaya belajar visual akan lebih mudah menyerap pelajaran yang diberikan oleh guru melalui media-media visual seperti poster, gambar-gambar, video, dan lain sebagainya.

2. Auditorial
Gaya belajar auditorial adalah belajar dengan cara mendengar. Siswa dengan gaya belajar auditorial akan lebih mudah menyerap pelajaran yang diberikan oleh guru melalui media-media audio seperti mendengarkan cerita, mendengarkan kaset, ceramah, diskusi, dan lain sebagainya.

3. Kinestetik
Gaya belajar kinestetik adalah belajar dengan cara bergerak, bekerja, dan menyentuh. Siswa dengan gaya belajar kinestetik akan lebih mudah menyerap pelajaran yang diberikan oleh guru melalui praktek-praktek atau praktikum. 

Modalitas belajar atau gaya belajar tersebut di atas merupakan dasar bagi siswa untuk belajar dengan menggunakan strategi Quantum Learning. Menurut DePorter dan Hernacki dalam Alwiyah (2009), strategi Quantum Learning meliputi hal-hal sebagai berikut. 

1. Memberikan sugesti positif untuk siswa
Dalam Quantum Learning tidak terdapat istilah siswa bodoh atau gagal.Kegagalan adalah  umpan balik untuk memberikan motivasi siswa dan belajar dari kegagalan untuk memperoleh kesuksesan. Metode Quantum Learning digunakan guru untuk selalu memberikan sugesti posif kepada siswa bahwa mereka mampu melakukan aktifitas belajar mengajar dengan baik, mampu mengerjakan tugas dengan baik, dan akhirnya mampu memperoleh nilai terbaik.

2. Mendudukkan murid secara nyaman
Dalam metode Quantum Learning, siswa diajarkan bagaimana siswa duduk secara nyaman. Posisi duduk dan berjalan memasuki kelas harus tegak sehingga siswa akan selalu bersemangat dalam menghadapi segala aktifitas pembelajaran yang akan disampaikan oleh guru.

3. Memasang musik latar di dalam kelas
Musik yang digunakan adalah musik klasik dengan irama ketukan yang teratur sesuai detak jantung. Dari hasil penelitian, musik-musik tersebut dapat meningkatkan daya tahan dalam belajar dan meningkatkan daya konsentrasi siswa.

4. Meningkatkan prestasi individu
Dalam metode Quantum Learning, peran guru bukanlah mentransfer pengetahuan kepada siswa secara satu arah saja, melainkan siswa juga distimulasi agar ikut berperan aktif selama proses belajar mengajar berlangsung. Hal ini bisa dilakukan melalui permainan, diskusi, tanya jawab, dan lain sebagainya. Melalui treatment tersebut, maka prestasi individu akan lebih terlihat dan bisa ditingkatkan.

5. Menggunakan poster atau gambar untuk memberi kesan besar sambil menonjolkan 
          informsi  
Metode Quantum Learning mengajarkan proses pembelajaran secara menyenangkan. Sehingga guru harus bersikap kreatif untuk menghidupkan proses belajar mengajar tersebut, diantaranya dengan menggunakan poster-poster dalam memberikan materi pelajaran. Sehingga siswa akan lebih mudah mengingat dan memahami materi pelajaran yang disampaikan oleh guru.

Contoh  Skenario Model Quantum Learning

Kegiatan pendahuluan :
1. Guru melakukan apersepsi dengan pertanyaan pada materi pembelajaran IPA.
2. Memberi pertanyaan kepada siswa tentang cakupan materi dari pembelajaran IPA

Kegiatan inti :
1. Mentransfer jawaban siswa dalam bentuk peta konsep.
2. Memperbaiki peta konsep yang belum terstruktur menjadi terstuktur.
3. Setelah peta konsep jadi, membeti tugas kepada siswa untuk membuat peta konsep secara berkelompok berdasarkan sub-sub materi. 
4. Membagi siswa menjadi beberapa kelompok, kemudian siswa kerja kelompok untuk membuat peta konsep.
5. Guru keliling untuk memberi penjelasan jika ada kelompok yang bertanya selama siswa menyusun peta konsep..
6. wakil-wakil kelompok maju untuk mempresentasikan hasil kerjanya. Sementara itu kelompok lain diberi kesempatan untuk memberi tanggapan dan masukan.
7. Menjelaskan tentang materi yang belum dipahami siswa

Kegiatan Penutup :
1. Memberikan masukan tentang hasil pekerjaan siswa
2. Postest.
3. Memberi kesempatan siswa untuk memberi masukan tentang cara pmbelajaran yang dilakukan guru sebagai evaluasi pembelajaran pada pertemuan berikutnya.

Dari uraian di atas timbul beberapa pertanyaan antara lain :
1. apakah model pembelajaran kuantum merupakan perencanaan pembelajaran yang ideal menurut tuntutan kurikulum yang berlaku pada saat sekarang ini ? 
2. apakah ada perbedaan dan persamaan dari Quantum Teaching dan Quantum Learning ?

Senin, 19 Februari 2018

SISTEM PENILAIAN PADA PROSES PEMBELAJARAN SAINS PADA SISWA


1. Pengertian Penilaian
Penilaian merupakan serangkaian kegiatan untuk memperoleh, menganalisis, dan menafsirkan data tentang proses dan hasil belajar peserta didik yang dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan, sehingga menjadi informasi yang bermakna dalam pengambilan keputusan (Trianto, 2010). Dalam istilah asingnya, penilaian adalah evaluation dan diperoleh kata indonesia evaluasi yang berarti menilai (tetapi dilakukan dengan mengukur terlebih dahulu). Kita tidak dapat mengadakan penilaian sebelum kita mengadakan pengukuran.
Mengukur adalah membandingkan sesuatu dengan satu ukuran. Pengukuran bersifat kuantitatif. Menilai adalah mengambil suatu keputusan terhadap seseuatu dengan ukuran baik buruk. Penilaian bersifat kualitatif. Mengadakan evaluasi meliputi kedua langkah diatas, yakni mengukur dan menilai.
Sedangkan, Pengertian penilaian berdasarkan peraturan MENDIKNAS Nomor 20 Tahun2007 Penilaian pendidikan adalah proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk menentukan pencapaian hasil belajar peserta didik. 

Penilaian hasil belajar peserta didik dilaksanakan berdasarkan standar penilaian pendidikan yang berlaku secara nasional. Standar penilaian pendidikan adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan mekanisme, prosedur, dan instrumen penilaian hasil belajar peserta didik. Penilaian dapat berupa ulangan dan atau ujian. Dalam dunia pendidikan, khususnya dunia persekolahan, penilaian mempunyai makana ditinjau dari berbagai segi.

a.         Makna bagi sisiwa
Dengan diadakanya penilaian, maka siswa dapat mengetahui sejauh mana telah berhasil mengikuti pelajaran yang diberikan oleh guru. Hasil yang diperoleh siswa dari perkerjaan menilai ini ada 2 kemungkinan yaitu memuaskan dan tidak memuaskan.
b.        Makna bagi guru
      1.       Dengan hasil penilaian yang diperoleh guru akan dapat mengetahui kemampuan siswa. Dengn petunjuk ini guru dapat lebih memusatkan perhatianya kepada siswa-siswa yang belu berhasil.
       2.        Guru mengetahui apa materi yang diajarkan sudah tepat bagi siswa sehingga untuk memberikan pengajaran diwaktu yang akan datang tidak perlu diadakan perubahan.
        3.        Guru akan mengetahui apakah metode yang digunakan sudah tepat atau belum
c.         Makna bagi sekolah
       a)        Hasil belajar merupakan cermin kualitas sesuatu sekolah.
       b)        Informasi dari guru tentang tepat tidaknya kurikulum untuk sekolah itu dapat merupakan 
               bahan pertimbangan bagi perencanaan sekolah untuk masa-masa akan datang.
           c)        Informasi hasil penilaian yang diperoleh dari tahun ketahun dapat digunakan sebagai pedoman bagi sekolah

2. Tujuan Penilaian
        Tujuan atau fungsi penilaian ada beberapa hal:
a)        Penilaian berfungsi selektif
Dengan mengadakan penilaian guru mempunyai cara untuk mengadakan seleksi atau penilaian      terhadap siswanya. Penilaian itu sendiri mempunayai berbagai tujuan., antara lain:
·           Untuk memilih siswa yang dapat diterima disekolah tertentu.
·           Untuk memilih siswa yang dapat naik ke kelas atau tingkat berikutnya
·           Untuk memilih siswa yang seharusnya mendapat beasiswa
·           Untuk memilih siswa yang sudah berhak meninggalkan sekolah, dan sebaliknya.

b)        Penilaian berfungsi diagnostik
Dengan mengadakan penilaian, sebelumya guru mengadakan diagnosis kepada siswa tentang kebaikan dan kelamahan-kelamahanya. Dengan diketahui sebab-sebab kelemahan ini, akan lebih mudah dicari untuk mengatasi.

c)        Penilaian berfungsi sebagai penempatan
Sistem yang baru yang kini banyak dipopulerkan dinegara barat, adalah sistem belajar sendiri. Belajar sendiri dapat dilakukan dengan cara mempelajari sebuah paket belajar, baik berbentuk modul maupun paket belajar yang lain. Sebagai alasan dari timbulnya sistem ini adalah adanya pengakuan yang besar terhadap kemapuan individual. Setiap siswa sejak lahirnya telah membawa bakat sendiri-sendiri sehingga pelajaran akan lebih efektif apabila disesuaiakan dengan pembawaan yang ada. Akan tetapi diesebabkan karena keterbatasan sarana dan tenaga, pendidikan yang bersifat individual kadang-kadang sukar sekali  dilaksanakan. Pendekatan yang lebih bersifat melayani perbedaan kemampuan, adalah pengajaran secara kelompok . untuk dapat menentukan dengan pasti dikelompok mana seorang siswa harus ditempatkan, digunkan untuk penilaian. Sekelompok siswa yang mempunyai hasil penilaian yang sama, akan berada dalam kelompok yang sama dalam belajar.

d)       Penilaian berfungsi sebagai pengukur keberhasilan.
Fungsi keempat dari penilaian ini dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana suatu perogram berhasil diterapkan. Telah disinggung pada bagian sebelum ini, keberhasilan program ditentukan oleh beberapa faktor yaitu faktor guru, metode mengajar, kurikulum, sarana, dan sistem administrasi.

3 Aspek Penilaian
Tujuan IPA adalah menguasai pengetahuan IPA, memahami dan menerapkan konsep IPA, menerapkan keterampilan proses, dan mengembangkan sikap. Tujuan penilaian ini sejalan dengan tiga aspek dalam kerangka kurikulum IPA seperti ditunjukkan di bawah:
1. Penilaian Pengetahuan, pemahaman dan penerapan konsep IPA
2. Penilaian Keterampilan dan Proses
3. Penilaian karakter dan sikap (sikap ilmiah)

Penjelasan ketiga jenis penilaian tersebut di atas adalah sebagai berikut:
  • 1.      Penilaian Pengetahuan, Pemahaman dan Penerapan Konsep IPA
Penilaian pengetahuan IPA merupakan produk dari pembelajaran IPA. Penilaian ini bertujuan untuk melihat penguasaan peserta didik terhadap fakta, konsep, prinsip, dan hukum-hukum dalam IPA dan penerapannya dalam kehidupan. Peserta didik diharapkan dapat menggunakan pemahamannyatersebut untuk membuat keputusan, berpartisipasi di masyarakat, dan menanggapi isu-isu lokal dan global.

  • 2.      Penilaian Keterampilan Proses
Penilaian dilakukan tidak hanya terhadap produk, tetapi juga proses.Penilaian proses IPA dilakukan terhadap keterampilan proses IPA, meliputi keterampilan dasar IPA dan keterampilan terpadu tingkat awal. Keterampilan proses IPA dasar meliputi observasi, inferensi, melakukan pengukuran, menggunakan bilangan, klasifikasi, komunikasi, dan prediksi. Di samping itu,peserta didik mulai diperkenalkan dengan kemampuan melakukan percobaan sederhana dengan dua variabel atau lebih untuk menguji hipotesis tentang hubungan antar variabel. Peserta didik juga dilatih mengkomunikasikan hasil belajarnya melalui berbagai bentuk sepeti debat, diskusi, presentasi, tulisan, dan bentuk ekspresif lainnya. Dari berbagai keterampilan proses ilmiah, berikut adalah enam keterampilan dasar yang perlu dikuasai untuk peserta didik.
a. Observasi
Penilaian keterampilan melakukan observasi dinilai pada saat melakukan observasi dalam rangka memperoleh data hasil penginderaan terhadap objek dan fenomena alam menggunakan panca indera. Informasi yang diperoleh menimbulkan rasa ingin tahu, pertanyaan, interpretasi, dan investigasi.

b. Komunikasi
Keterampilan berkomunikasi secara ilmiah menggunakan berbagai cara, seperti menggunakan grafik, carta, peta, simbol, diangram, rumus matematis, dan demonstrasi visual, baik secara tertulis maupun lisan.

c. Klasifikasi
Keterampilan melakukan klasifikasi diperlukan untuk mengelompokkan berbagai objek untuk mempermudah mempelajarinya, berdasarkan persamaan, perbedaan, dan saling keterkaitan obyek.

d. Pengukuran
Keterampilan melakukan pengukuran menggunakan alat ukur standar untukmelakukan observasi secara kuantitatif, membandingkan, dan mengklasifikasikan, serta mengkomunikasikannya secara efektif. Alat pengukuran meliputi penggaris, meteran, neraca, gelas ukur, termometer, pH meter, Higrometer, dan sebagainya.

e. Inferensi
Keterampilan melakukan interpretasi dan menjelaskan kejadian di sekitar kita.Kemampuan ini dibutuhkan antara lain untuk menyusun hipotesis. Interpretasi menghubungkan pengalaman lampau dengan apa yang sedang dilihat.

f. Prediksi
Keterampilan melakukan prediksi ditentukan oleh observasi yang teliti dan inferensi untuk memprediksi apa yang akan terjadi untuk menentukan reaksi yang tepat terhadap lingkungan.

g. Percobaan Sederhana
Keterampilan melakukan percobaan diawali dengan kemampuan menyusunpertanyaan, mengidentifikasi variabel, mengemukakan hipotesis, mengidentifikasi variabel kontrol, membuat desain percobaan, melakukan percobaan, mengumpulkan data, dan interpretasi data.

  • 3. Penilaian sikap
                 Penilaian sikap ilmiah meliputi sikap obyektif, terbuka, tidak menerima begitusaja sesuatu sebagai kebenaran, ingin tahu, ulet, tekun, dan pantang menyerah. Selain itu, kemampuan bekerjasama, bertukar pendapat, mempertahankan pendapat, menerima saran, dan kemampuan sosial lainnya dapat juga dilakukan melalui pembelajaran IPA

4. Teknik dan Instrumen Penilaian
Teknik dan instrumen yang digunakan untuk penilaian kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan sebagai berikut:
a. Penilaian kompetensi sikap
Pendidik melakukan penilaian kompetensi sikap melalui observasi, penilaian diri, penilaian “teman sejawat”(peer evaluation) oleh peserta  didik  dan   jurnal.   Instrumen  yang  digunakan   untuk observasi, penilaian diri, dan penilaian antar peserta didik adalah daftar cek atau skala penilaian (ratingscale) yang disertai rubrik, sedangkan pada jurnal berupa catatan pendidik.
  • ·        Observasi merupakan teknik penilaian yang dilakukan secara berkesinambungan dengan menggunakan indera,baik secara langsung maupun  tidak  langsung  dengan  menggunakan pedoman observasi yang berisi sejumlah indikator perilaku yang diamati.
  • ·         Penilaian diri merupakan teknik penilaian dengan cara meminta peserta didik untuk mengemukakan kelebihan dan kekurangan dirinya dalam konteks pencapaian  kompetensi. Instrumen yang digunakan berupa lembar penilaian diri.
  • ·        Penilaian antar peserta didik merupakan teknik penilaian dengan cara meminta peserta didik untuk saling menilai terkait dengan pencapaian kompetensi. Instrumen yang digunakan berupa lembar penilaian antar peserta didik.
  • ·         Jurnal merupakan catatan pendidik di dalam dan di luar kelas yang berisi informasi hasil pengamatan tentang kekuatan dan kelemahan peserta didik yang berkaitan dengan sikap dan perilaku.

b. PenilaianKompetensi Pengetahuan
 Pendidik menilai kompetensi  pengetahuan  melalui tes  tulis, tes lisan, dan penugasan.
  •  Instrumen tes tulis berupa soal pilihan ganda,isian,jawaban singkat, benar-salah, menjodohkan, dan uraian .Instrumen uraian dilengkapi pedoman penskoran.
  •  Instrumen tes lisanberupa daftar pertanyaan.
  •  Instrumen penugasan berupa pekerjaan  rumah dan/atau projek yang dikerjakan secara individu atau kelompok sesuai dengan karakteristik tugas.

c. Penilaian Kompetensi Keterampilan
Pendidik menilai kompetensi keterampilan melalui penilaian kinerja, yaitu penilaian yang menuntut peserta didik mendemonstrasikan suatu  kompetensi tertentu  dengan  menggunakan  tes  praktik, projek, dan penilaian portofolio. Instrumen yang digunakan berupa daftar cek atau skala penilaian (rating scale) yang dilengkapi rubrik.
  •    Tes praktik adalah penilaian yang menuntut respon berupa keterampilan melakukan suatu  aktivitasatau perilaku sesuai dengan tuntutan kompetensi.
  •    Projek adalah tugas-tugas belajar (learningtasks) yang meliputi kegiatanperancangan,     pelaksanaan, dan pelaporan secara tertulis maupun lisan dalam waktu tertentu.
  •    Penilaian portofolio adalah penilaian yang dilakukan dengan cara  menilai kumpulan  seluruh  karya peserta  didik  dalam bidang    tertentu   yang   bersifat   reflektif-integratif   untuk mengetahui minat,    perkembangan,    prestasi,    tertentu. Karya tersebut dapat berbentuk tindakan nyata yang mencerminkan kepedulian peserta didik terhadap lingkungannya.
  5  Syarat menyusun  alat penilaian
       Membuat pertanyaan tes (alat evaluasi) tidak mudah, sebab tes/pertanyaan merupakan alat untuk melihat perubahan kemampuan dan tingkah laku siswa setelah ia menerima pengajaran dari guru/pengajar di sekolah. Alat evaluasi yang salah, akan menggambarkan kemampuan dan tingkah laku yang salah pula. Oleh karena itu teknik penyusunan alat evaluasi penting dipertimbangkan agar memperoleh hasil yang objektif.
       Beberapa syarat dan petunjuk yang perlu diperhatikan dalam menyusun alat evaluasi, ialah:
1.      Harus menetapkan dulu segi-segi apa yang  akan dinilai, sehingga betul-betul terbatas serta dapat  
memberi petunjuk bagaimana dan dengan alat apa segi tersebut dapat kita nilai.
2.      Harus menetapkan alat evaluasi yang betul-betul valid dan reliable, artinya taraf ketetapan dan
ketetapan tes sesuai dengan aspek yang akan dinilai.
3.      Penilaian harus objektif, artinya menilai prestasi siswa sebagaimana adanya.
4.      Hasil penilaian tersebut harus betul-betul diolah dengan teliti sehingga dapat ditafsir berdasarkan kriteria yang berlaku.
5.      Alat evaluasi yang dibuat hendaknya mengandung unsure diagnosis, artinya dapat dijadikan bahan untuk mencari kelemahan siswa belajar dan guru mengajar.

6 Prinsip Penilaian
1.      Sahih
Penilaian hasil belajar oleh pendidik harus mengukur pencapaian kompetensi yang ditetapkan dalam standar isi (standar kompetensi dan  kompetensi dasar) dan standar kompetensi lulusan. Penilaian valid berarti menilai apa yang seharusnya dinilai dengan menggunakan alat yang sesuai untuk mengukur kompetensi.
2.      Objektif
Berati penilaian berbasis pada standar (prosedur daan kriteria yang jelas) dan tidak dipengaruhi faktor subjektivitas penilai. Agar penilaian objektif, seorang guru harus berupaya secara optimal untuk memanfaatkan berbagai bukti hasil kerja peserta didik dari sejumlah penilaian dan  membuat keputusan  yang adil tentang penguasaan kompetensi peserta didk dengan mempertimbangkan hasil kerja peserta didik.
3.      Terpadu
Berarti penilaian oleh pendidik dilakukan secara terencana, menyatu dengan kegiatan pembelajaran, dan berkesinambungan untuk memantau proses, kemajuan dan perbaikan hasil dalam bentuk ulangan harian, ulangan tengah semester dan ujian kenaikan kelas.
4.      Ekonomis
Berati penilaian yang efesien dan efektif dalam perencanaan, pelaksanaan dan pelaporannya.

5.      Transparan
Berarti prosedur penilaian yang efisien dan efektif dalam perencanaan, pelaksanaan dan pelaporannya serta dapat diketahui oleh semua pihak yang berkepantingan.
6.      Akuntabel
Berati penilaian dapat dipertanggungjawabkan kepada pihak internal sekolah maupun eksternal untuk aspek teknik, prosedur dan hasilnya.
7.      Sistematis
Berarti penilaian dilakukan secara berencana dan bertahap dengan mengikuti langkah-langkah baku.
8.      Beracuan kriteria
Penilaian hasil belajar oleh guru didasarkan pada standar penilaian dan ukuran pencapain kompetensi yang telah ditetapkan.
9.        Menyeluruh/kmprehensif
Penilaian harus menyeluruh dengan menggunakan berbagai macam cara dan alat untuk menilai beragam kompetensiatau kemampuan peserta didik sehingga tergampar kemampuan peserta didik.
10.    Mendidik
Penilaian dilakukan untuk memperbaiki proses prmbelajaran bagi guru dan meningkatkan kualitas belajar bagi peserta didik.
7.  Standar Penilaian Pendidikan Ipa
Penilaian pembelajaran IPA di sekolah hendaknya mengacu pada suatu standar yang ditetapkan baik secara nasional maupun internasional. National Research Council dalam National Committee on Science Education Standards and Assessment (1996), telah menetapkan National Science Education Standards (NSES), suatu standar bagi pendidik dalam menilai pendidikan IPA di semua level pendidikan. Standar nasional pendidikan IPA versi NRC ini berisi standar konten IPA, standar pedagogi dalam mengajar IPA, standar  profesi, standar program, standar asesmen, dan standar sistem. Mutu pendidikan IPA yang baik, harusmemenuhi semua standar tersebut.
Penilaian standar memberikan kriteria untuk menilai kemajuan menuju visi pendidikan IPA pada literasi sains untuk semua. Standar yang menggambarkan kualitas praktek penilaian yang digunakan oleh guru dan lembaga pemerintah untuk mengukur prestasi dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar IPA. Panduan untuk mengembangkan penilaian, praktek, dan kebijakan. Standar ini dapat diterapkan untuk penilaian siswa, guru, program formatif dan sumatif, dan penilaian eksternal. Sebagai mekanisme umpan balik utama dalam sistem pendidikan sains.

 7.1. Standar Penilaian IPA
Latar belakang disusunnya Standar pendidikan IPA ini adalah karena adanya kebutuhan masyarakat terhadap IPA bukan hanya sekedar ilmu tetapi sebagai sesuatu yang dapat digunakan untuk bertahan hidup (NRC, 1996). Standar penilaian menyediakan kriteria untuk menentukan kualitas  praktik-pratik penilaian. Standar penilaian meliputi lima bidang sebagai berikut:
1. Konsistensi penilaian dengan suatu keputusan merupakan desain untuk informasi
2. Penilaian prestasi dan kesempatan untuk belajar sains
3. Mencocokkan antara kualitas teknis dari kumpulan data dan konsekuensi tindakan yang perlu
    dilakukan berbasis data tersebut
4.  Kejujuran dalam praktik penilaian
5. Ketepatan penarikan kesimpulan berdasarkan penilaian tentang prestasi siswa dan kesempatan
     untuk  belajar.
Dalam visi yang dijelaskan oleh National Science Education Standards, penilaian adalah mekanisme umpan balik utama dalam sistem pendidikan sains. Standar penilaian  menyediakan siswa dengan umpan balik tentang seberapa baik mereka memenuhi harapan, guru dengan umpan balik tentang seberapa baik siswa mereka belajar, sekolah dengan umpan balik tentang efektivitas guru dan program mereka, dan pembuat kebijakan dengan umpan balik tentang seberapa baik kebijakan bekerja. Umpan balik ini pada gilirannya merangsang perubahan kebijakan, memandu pengembangan profesional guru, dan mendorong siswa untuk meningkatkan pemahaman mereka tentang IPA.

7.2.  Perubahan Fokus Standar Penilaian
Berdasarkan National Science Education Standard in the  United States (National Research Council, 1996)  perubahan fokus yang terjadi pada standar penilaian adalah sebagai berikut

Tabel 2.1 Perubahan Fokus Standar Penilaian
Hal yang Dikurangi
Hal yang Diutamakan
Menilai yang mudah diukur 
Menilai yang paling berharga
Menilai pengetahuan yang memiliki
ciri yang  jelas
Menilai pengetahuan yang kaya
dan berstruktur baik
Menilai pengetahuan yang bersifat ilmiah
Menilai pemahaman dan pemikiran 
Ilmiah
Menilai untuk mempelajari apa
yang tidak dipahami siswa
Menilai untuk mempelajari apa
yang dipahami siswa
Hanya melakukan penilaian atas pencapaian 
Menilai pencapaian dan peluang untuk belajar
Penilaian akhir dilakukan oleh guru 
Siswa terlibat dalam penilaian yang 
sedang berlangsung atas hasil kerjanya dan hasil kerja temannya
Pengembangan penilaian eksternal hanya oleh ahli
Guru terlibat dalam pengembangan penilaian eksternal

Proses penilaian adalah alat yang efektif  untuk mengkomunikasikan harapan  sistem pendidikan IPA untuk semua pihak yang terkait dengan pendidikan IPA. Praktek penilaian dan kebijakan memberikan definisi operasional  apa yang penting untuk dilakukan. Misalnya, penggunaan  dari proses penyelidikan/inquiri untuk penilaian  tugas siswa dari apa yang sedang dipelajari, bagaimana guru mengajar, dan dimana sumber daya  yang harus dialokasikan.
Penilaian adalah sistematis, proses tahapan yang melibatkan pengumpulan dan interpretasi data pendidikan. Standar penilaian meliputi empat komponen dapat dikombinasikan dalam berbagai cara. Misalnya, guru menggunakan data prestasi siswa untuk merencanakan dan memodifikasi praktik pengajaran. Berbagai kegunaan, pengguna, metode, dan data berkontribusi terhadap kompleksitas dan pentingnya penilaian proses. 
8. Rubik
Menurut Abdul Majid (2013) Rubrik penilaian merupakan kunci penskoran yang menggambarkan berbagai tingkat kualitas kemampuan dari yang sempurna  sampai yang kurang untuk menilai satu tugas , keterampilan proyek, esai , laporan penelitian atau kinerja spesifik.
Rubrik merupakan panduan penilaian yang menggambarkan kriteria yang diinginkan guru dalam menilai atau memberi tingkatan dari hasil pekerjaan siswa  Rubrik perlu memuat daftar karakteristik yang diinginkan yang perlu ditunjukkan dalam suatu pekerjaan siswa disertai dengan panduan untuk mengevaluasi masing-masing karakteristik tersebut.
Rubrik merupakan pedoman kerja untuk siswa dan guru. Idealnya rubrik diberikan kepada siswa sebelum tugas dilakukan agar siswa memahami kriteria yang digunakan untuk menilai hasil kerja mereka.
Menurut Abdul Majid (2013) Keuntungan yang dapat diperoleh bila guru menggunakan rubrik diantaranya :
1.      Guru dapat meningkatkan kualitas pembelajaran dengan fokus, penekanan, dan perhatian pada rincian tertentu sebagai modal pengetahuan untuk siswa
2.      Siswa mempunyai pedoman yang jelas mengenai apa yang diharapkan guru
3.      Siswa dapat menggunakan rubrik sebagai alat untuk mengembangkan kemampuannya
4.   Guru dapat menggunakan kembali rubrik  tersebut untuk berbagai kegiatan berikutnya yang sejenis.

        Dari uraian di atas maka timbul beberapa pertanyaan dari penulis,
1. Apakah sistem penilaian diatas ini sudah merupakan tolak ukur dalam mengevaluasi  siswa atau masih ada sistem penilaian lainnya ?
2. Setiap siswa mempunyai pemahaman yang berbeda-beda ada yang pintar di bidang lisan dan ada yang pintar di bidang tulisan serta ada juga yang pintar di bidang praktikum, apakah sistem penilaiannya sama saja atau ada sistem penilaian lainnya yang harus diterapkan untuk mengevaluasi siswa dalam belajar sains ?