Kamis, 01 Februari 2018

MODEL PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL DAN MODEL PEMBELAJARAN COLLABORATIVE

o           A. Model Pembelajaran Kontekstual
Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan proses pembelajaran yang holistik dan bertujuan membantu siswa untuk memahami makna materi ajar dengan mengaitkannya terhadap konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial dan kultural), sehingga siswa memiliki pengetahuan/ ketrampilan yang dinamis dan fleksibel untuk mengkonstruksi sendiri secara aktif pemahamannya.
CTL disebut pendekatan kontektual karena konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota masyarakat.
Dalam Contextual teaching and learning (CTL) diperlukan sebuah pendekatan yang lebih memberdayakan siswa dengan harapan siswa mampu mengkonstruksikan pengetahuan dalam benak mereka, bukan menghafalkan fakta. Disamping itu siswa belajar melalui mengalami bukan menghafal, mengingat pengetahuan bukan sebuah perangkat fakta dan konsep yang siap diterima akan tetapi sesuatu yang harus dikonstruksi oleh siswa. Dengan rasional tersebut pengetahuan selalu berubah sesuai dengan perkembangan jaman.

Tujuh Komponen Pembelajaran Kontekstual
 1. Konstruktivisme
  • Membangun pemahaman mereka sendiri dari pengalaman baru berdasar pada pengetahuan      awal.
  • Pembelajaran harus dikemas menjadi proses “mengkonstruksi” bukan menerima pengetahuan
2. Inquiry
  • Proses perpindahan dari pengamatan menjadi pemahaman.
  • Siswa belajar menggunakan keterampilan berpikir kritis
3. Questioning (Bertanya)
  • Kegiatan guru untuk mendorong, membimbing dan menilai kemampuan berpikir siswa.
  • Bagi siswa yang merupakan bagian penting dalam pembelajaran yang berbasis inquiry
4. Learning Community (Masyarakat Belajar)
  • Sekelompok orang yang terikat dalam kegiatan belajar.
  • Bekerjasama dengan orang lain lebih baik daripada belajar sendiri.
  • Tukar pengalaman.
  • Berbagi ide
5. Modeling (Pemodelan)
  • Proses penampilan suatu contoh agar orang lain berpikir, bekerja dan belajar.
  • Mengerjakan apa yang guru inginkan agar siswa mengerjakannya
6. Reflection ( Refleksi)
  • Cara berpikir tentang apa yang telah kita pelajari.
  • Mencatat apa yang telah dipelajari.
  • Membuat jurnal, karya seni, diskusi kelompok
7. Authentic Assessment (Penilaian Yang Sebenarnya)
  • Mengukur pengetahuan dan keterampilan siswa.
  • Penilaian produk (kinerja).
  • Tugas-tugas yang relevan dan kontekstual
                      B. Model Pembelajaran Collaborative
Kolaborasi adalah kata sifat yang menyiratkan bekerja dalam kelompok yang berisi dua atau lebih untuk mencapai tujuan bersama, dan menghormati kontribusi masing-masing individu untuk utuh. Pembelajaran kolaboratif adalah metode pembelajaran yang menggunakan interaksi  sosial sebagai sarana membangun pengetahuan (Paz Dennen, 2000).
Kemunculan ide pembelajaran kolaboratif bermula dari perspektif filosofis terhadap konsep belajar. Untuk dapat belajar, seseorang harus memiliki pasangan. Pada tahun 1916, John Dewey, menulis sebuah buku “Democracy and Education” yang isinya bahwa kelas merupakan cermin masyarakat dan berfungsi sebagai laboratorium untuk belajar tentang kehidupan nyata. Pemikiran John Dewey yang utama tentang pendidikan adalah :
1.      Siswa hendaknya aktif, learning by doing
2.      Belajar hendaknya didasari motivasi intrinsik
3.      Pengetahuan adalah berkembang, tidak bersifat tetap
4.      Kegiatan belajar hendaknya sesuai dengan kebutuhan dan minat siswa
5.   Pendidikan harus mencakup kegiatan belajar dengan prinsip saling memahami dan saling menghormati satu sama lain, artinya prosedur demokratis sangat penting.
6.      Kegiatan belajar hendaknya berhubungan dengan dunia nyata dan bertujuan mengembangkan dunia tersebut

Pembelajaran Kolaboratif

Definisi pembelajaran kolaboratif yang diungkapkan oleh beberapa tokoh sebagai berikut :
1.    Menurut B.L. Smith dan J.T. MacGregon merupakan berbagai jenis pendekatan pendidikan yang melibatkan usaha berkerjasama secara intelektual antar siswa atau antar siswa dan pengajar.
2.    Gokhale mendefinisikan bahwa “collaborative learning” mengacu pada metode pengajaran dimana siswa dalam satu kelompok yang bervariasi tingkat kecakapannya bekerjasama dalam kelompok kecil yang mengarah pada tujuan bersama
3.   Menurut Johnson Pembelajaran kolaboratif (CL) mengacu pada pembelajaran metode yang mendorong siswa bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama, bermanfaat bagi semua. Ini melibatkan proses sosial (interpersonal) di mana peserta didik saling membantu untuk memahami serta mendorong satu sama lain dan bekerja tangan dalam proses pembelajaran.
4.     Keohane berpendapat bahwa kolaborasi adalah bekerja bersama dengan yang lain, kerja sama, bekerja dalam begian satu team, dan di dalamnya bercampur didalam satu kelompok menuju keberhasilan bersama.

      Jadi pembelajaran kolaboratif adalah suatu metode yang melibatkan siswa untuk saling bekerjasama dan saling membantu dalam satu kelompok yang beragam tingkat kemampuannya untuk mencapai tujuan pembelajaran yang akan dicapai.

Menurut Piaget dan Vigotsky, Strategi pembelajaran kolaboratif didukung oleh adanya tiga teori, yaitu:
1.      Teori Kognitif
Teori ini berkaitan dengan terjadinya pertukaran konsep antar anggota kelompok pada pembelajaran kolaboratif sehingga dalam suatu kelompok akan terjadi proses transformasi ilmu pengetahuan pada setiap anggota.
2.      Teori Konstruktivisme Sosial
Pada teori ini terlihat adanya interaksi sosial antar anggota yang akan membantu perkembangan individu dan meningkatkan sikap saling menghormati pendapat semu anggota semua kelompok.
3.      Teori Motivasi
Teori ini teraplikasi dalam struktur pembelajaran kolaboratif karena pembelajaran tersebut akan memberikan lingkungan yang kondusif bagi siswa untuk belajar, menambah keberanian anggota untuk memberi pendapat dan menciptakan situasi saling memerlukan pada seluruh anggota dalam kelompok.

Tujuan utama penggunaan pembelajaran kolaboratif dalam proses pembelajaran
1.     Mendorong siswa untuk berkomunikasi satu sama lain, menyatakan respon pada pertanyaan, dan menyampaikan pendapat yang berbeda serta memberi kesimpulan.
2.  Memberikan tanggung jawab belajar karena siswa dituntut memecahkan masalah dalam kelompok
3.  Dapat mencakup materi yang lebih banyak, dengan aktifnya siswa mengupas materi dan bertukar pendapat dalam kelas sehingga dapat memperbanyak materi yang dimiliki siswa
4.     Meningkatkan pembelajaran murid karena adanya dukungan sosial (kerja kelompok) sehingga dapat meningkatkan motivasi belajar siswa
5.      Membangun rasa percaya diri dan mandiri kepada siswa.
6.      Memiliki pengalaman bekerja dalam kelompok.

         Guru tidak  selalu tahu bagaimana siswa tampil di lingkungan kolaboratif, tetapi jika mereka mempersiapkan dan melakukan sebagai mediator dan fasilitator, baik pembelajar dan pebelajar akan mendapatkan keuntungan dari pengalaman kolaboratif. Tinzmann, Jones, Fennimore, Bakker, Halus dan Pierce (1990), menunjukkan bahwa ada empat khas karakteristik kolaborasi yaitu.
1.  Berbagi pengetahuan antara guru dan siswa pengetahuan bersama dalam banyak cara karakteristik dari kelas tradisional, di mana guru adalah pemberi informasi, tetapi juga menggabungkan beberapa masukan siswa, di mana siswa berbagi pengalaman atau pengetahuan.
2.    Berbagi peran antara guru dan siswa, dimana pembelajar mengatur tujuan pembelajaran dan pebelajar menyelesaikan tugas dengan metode mereka sendiri.
3.     Guru sebagai mediator: Di daerah ini guru mendorong siswa untuk belajar bagaimana belajar – ini menjadi salah satu aspek yang paling penting dari pembelajaran kolaboratif.
4. Pengelompokan heterogen siswa karakteristik ini mengajarkan semua siswa untuk menghormati dan menghargai kontribusi yang diberikan oleh semua anggota dalam kelompok, tidak peduli latar belakang.
(Timothy S. Roberts : 207)

Kelebihan Dan Kekurangan Pembelajaran Kolaboratif

Kelebihan
1.      Siswa belajar bermusyawarah
2.      Siswa belajar menghargai pendapat orang lain
3.      Dapat mengembangkan cara berpikir kritis dan rasional
4.      Dapat memupuk rasa kerja sama
5.      Adanya persaingan yang sehat

Kelemahan
1.      Pendapat serta pertanyaan siswa dapat menyimpang dari pokok persoalan.
2.      Membutuhkan waktu cukup banyak.
3.      Adanya sifat‑sifat pribadi yang ingin menonjolkan diri atau sebaliknya yang lemah merasa rendah diri dan selalu tergantung pada orang lain.
4.      Kebulatan atau kesimpulan bahan kadang sukar dicapai.

Dari uraian di atas dapat kita simpulkan bahwa  model pembelajaran CTL disebut pendekatan kontektual karena konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota masyarakat. sedangkan collaborative learning merupakan salah satu strategi pembelejaran yang digunakan untuk meningkatkan hasil belajar. Dalam strategi tersebut lebih memfokuskan bagaimana memaksimalkan partisipasi dan keaktifan dalam pembelajaran serta bagaimana siswa dapat mengkonstruksi sendiri ilmu pengetahuan untuk menjadi miliknya. Dalam strategi ini, peran guru cenderung menjadi fasilitator, motivator, dan membimbing menemukan alternatif pemencahan bila terjadi siswa mengalami kesulitan belajar.
Dari penjelasan di atas penulis masih kurang mengetahui :
1.    Apakah kedua model pembelajaran tersebut baik Kontekstual maupun Collaborative merupakan model pembelajaran yang paling baik untuk di terapkan di kurikulum K13? mohon penjelasannya !
2.   Apakah model pembelajaran kontekstual mempunyai kelebihan dan kekurangan seperti halnya dengan model pembelajaran collaborative ?
3.    Apakah semua guru di sekolah baik itu guru SD, SMP dan SMA bisa menerapkan model pembelajaran ini atau harus ada pelatihan khusus ?

15 komentar:

  1. saya akan menjawab soal nomor 3.Menurut saya setiap guru bisa menerapkan model pembelajaran ini, tp untuk meningkatkan kompetensi guru, pelatihan dalam tindakan kelas layak dilakukan agar guru tersebut lebih bisa melaksnakan kegiatan pembelajaran yang diharapkan sesuai dengan kurikulum pendidikan.

    BalasHapus
  2. terimakasih atas ulasan artikelnya saya akan menjawab pertanyaan no. 3 meurut saya untuk menerapkan model pembelajaran kolaboratif dan kontekstual tidak harus selalu melalui pelatihan khusus, apabila menunggu adanya pelatihan dulu yang tidak tahu kapan akan diadakan maka pembelajaran tidak akan bervariasi maka untuk menerapkan model pembelajaran tersebut bisa dipelajari sendiri atau bisa ditanyakan kepada guru lain yang telah berpengalaman.

    BalasHapus
  3. 1.kurang efisien diterapkan karena buat model kontektual pernah di terapkan pada KTSP terjadi perubahan kurikulum lagi.
    Menurut saya bisa efisien asal strategi dan pendekatan maupun tekhnik yg di gunakan cocok sama model dan materi yg di gunakan

    BalasHapus
  4. Terimakasih ulasannya, sangat bermanfaat untuk memperdalam pengetahuan.
    Terkait pertanyaan pertama, menurut saya semua model itu baik dann bagus, semua model mempunyai kelebihan dan kekurangan, sekarang tergantung bagaimana kondisi saat terjadi PBM. Jika seorang guru mampu mengolah model yg digunakannya dengen maksimal, maka hasilnya juga akan maksimal..terimakasih

    BalasHapus
  5. Assalamualaikum wr,wb
    Saya mencoba menjawab pertanyaan no 2.
    Tentu saja model pembelajaran itu mempunyai kelebihan dan kekurangan disini saya papar kan kelebihan dan kekurangan dari model konstekrual..

    Kelebihan dari model pembelajaran kontekstual


    Memberikan kesempatan pada sisiwa untuk dapat maju terus sesuai dengan potensi yang dimiliki sisiwa sehingga sisiwa terlibat aktif dalam PBM.
    Siswa dapat berfikir kritis dan kreatif dalam mengumpulkan data, memahami suatu isu dan memecahkan masalah dan guru dapat lebih kreatif
    Menyadarkan siswa tentang apa yang mereka pelajari.
    Pemilihan informasi berdasarkan kebutuhan siswa tidak ditentukan oleh guru.
    Pembelajaran lebih menyenangkan dan tidak membosankan.
    Membantu siwa bekerja dengan efektif dalam kelompok.
    Terbentuk sikap kerja sama yang baik antar individu maupun kelompok.


    Kelemahan model pembelajaran kontekstual

    Dalam pemilihan informasi atau materi dikelas didasarkan pada kebutuhan siswa padahal,dalam kelas itu tingkat kemampuan siswanya berbeda-beda sehinnga guru akan kesulitan dalam menetukan materi pelajaran karena tingkat pencapaianya siswa tadi tidak sama.
    Tidak efisien karena membutuhkan waktu yang agak lama dalam PBM
    Dalam proses pembelajaran dengan model CTL akan nampak jelas antara siswa yang memiliki kemampuan tinggi dan siswa yang memiliki kemampuan kurang, yang kemudian menimbulkan rasa tidak percaya diri bagi siswa yang kurang kemampuannya.
    Bagi siswa yang tertinggal dalam proses pembelajaran dengan CTL ini akan terus tertinggal dan sulit untuk mengejar ketertinggalan, karena dalam model pembelajaran ini kesuksesan siswa tergantung dari keaktifan dan usaha sendiri jadi siswa yang dengan baik mengikuti setiap pembelajaran dengan model ini tidak akan menunggu teman yang tertinggal dan mengalami kesulitan.
    Tidak setiap siswa dapat dengan mudah menyesuaikan diri dan mengembangkan kemampuan yang dimiliki dengan penggunaan model CTL ini.
    Kemampuan setiap siswa berbeda-beda, dan siswa yang memiliki kemampuan intelektual tinggi namun sulit untuk mengapresiasikannya dalam bentuk lesan akan mengalami kesulitan sebab CTL ini lebih mengembangkan ketrampilan dan kemampuan soft skill daripada kemampuan intelektualnya.
    Pengetahuan yang didapat oleh setiap siswa akan berbeda-beda dan tidak merata.
    Peran guru tidak nampak terlalu penting lagi karena dalam CTL ini peran guru hanya sebagai pengarah dan pembimbing, karena lebih menuntut siswa untuk aktif dan berusaha sendiri mencari informasi, mengamati fakta dan menemukan pengetahuan-pengetahuan baru di lapangan.

    BalasHapus
  6. saya akan mencoba menanggapi pertanyaan no 2. setiap model pembelajaran itu mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing tidak terkecuali dengan model pembelajaran kontekstual. berdasarkan beberapa sumber yang saya baca kelebihan model pembelajaran kontekstual itu sbb: Pembelajaran menjadi lebih bermakna dan riil Artinya siswa dituntut untuk dapat menangkap hubungan antara pengalaman belajar di sekolah dengan kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka, Pembelajaran lebih menyenangkan dan tidak membosankan dan Menyadarkan siswa tentang apa yang mereka pelajari. kekurangan model pembelajaran kontekstual sbb:Tidak setiap siswa dapat dengan mudah menyesuaikan diri dan mengembangkan kemampuan yang dimiliki dengan penggunaan model CTL ini, Pengetahuan yang didapat oleh setiap siswa akan berbeda-beda dan tidak merata, Dalam pemilihan materi dikelas didasarkan pada kebutuhan siswa sedangkan tingkat kemampuan siswanya berbeda-beda sehinnga guru akan kesulitan dalam menetukan materi pelajaran karena tingkat pencapaianya siswa tadi tidak sama.
    terima kasih

    BalasHapus
  7. Kelebihan dari model pembelajaran kontekstual
    • Kelebihan
    Membantu siwa bekerja dengan efektif dalam kelompok, Memberikan kesempatan pada sisiwa untuk dapat maju terus sesuai dengan potensi, Siswa dapat berfikir kritis dan kreatif, Terbentuk sikap kerja sama yang baik antar individu maupun kelompok dan Menyadarkan siswa tentang apa yang mereka pelajari.
    • Kelemahan
    Tidak efisien karena membutuhkan waktu lama, Kesenjangan kemampuan tinggi dan siswa yang memiliki kemampuan kurang, Peserta didik tertinggal dan sulit untuk mengejar ketertinggalan jika mengalami kesulitan, Tidak setiap siswa dapat dengan mudah menyesuaikan diri dan mengembangkan kemampuan yang dimiliki, Pengetahuan yang didapat oleh setiap siswa akan berbeda-beda dan tidak merata, dan Peran guru tidak nampak terlalu penting.

    Salam
    Agung Laksono

    BalasHapus
  8. saya akan mencoba menjawab pertanyaan nom3 3. tidak mesti ada pelatihan khusus dalam menerapkan model pembelajaran tersebut, selama guru tersebut, memahami dan mengerti bagaimana menjalankan model pembelajaran tersebut, walau hanya sebatas membaca langkah-langkahnya, boleh-boleh saja. setiap model pembelajaran yang diterapkan merupakan eksperimen guru dalam mencapai tujuan pembelajaran.

    BalasHapus
  9. Ass...
    baik saya akan mencoba menjawab pertanyaan no 2.

    Kelebihan dari model pembelajaran kontekstual
    1. Memberikan kesempatan pada sisiwa untuk dapat maju terus sesuai dengan potensi yang dimiliki sisiwa sehingga siswa terlibat aktif dalam PBM.
    2. Siswa dapat berfikir kritis dan kreatif dalam mengumpulkan data, memahami suatu isu dan memecahkan masalah dan guru dapat lebih kreatif
    3. Menyadarkan siswa tentang apa yang mereka pelajari.
    4. Pemilihan informasi berdasarkan kebutuhan siswa tidak ditentukan oleh guru.
    5. Pembelajaran lebih menyenangkan dan tidak membosankan.
    6. Membantu siwa bekerja dengan efektif dalam kelompok.
    7. Terbentuk sikap kerja sama yang baik antar individu maupun kelompok.


    Kelemahan model pembelajaran kontekstual 
    1. Dalam pemilihan informasi atau materi dikelas didasarkan pada kebutuhan siswa, padahal dalam kelas itu tingkat kemampuan siswanya berbeda-beda sehinnga guru akan kesulitan dalam menetukan materi pelajaran karena tingkat pencapaianya siswa tadi tidak sama.
    2. Tidak efisien karena membutuhkan waktu yang agak lama dalam PBM
    3. Dalam proses pembelajaran dengan model CTL akan nampak jelas antara siswa yang memiliki kemampuan tinggi dan siswa yang memiliki kemampuan kurang, yang kemudian menimbulkan rasa tidak percaya diri bagi siswa yang kurang kemampuannya.
    4. Bagi siswa yang tertinggal dalam proses pembelajaran dengan CTL ini akan terus tertinggal dan sulit untuk mengejar ketertinggalan, karena dalam model pembelajaran ini kesuksesan siswa tergantung dari keaktifan dan usaha sendiri jadi siswa yang dengan baik mengikuti setiap pembelajaran dengan model ini tidak akan menunggu teman yang tertinggal dan mengalami kesulitan.
    5. Tidak setiap siswa dapat dengan mudah menyesuaikan diri dan mengembangkan kemampuan yang dimiliki dengan penggunaan model CTL ini.
    6. Kemampuan setiap siswa berbeda-beda, dan siswa yang memiliki kemampuan intelektual tinggi namun sulit untuk mengapresiasikannya dalam bentuk lisan akan mengalami kesulitan sebab CTL ini lebih mengembangkan ketrampilan dan kemampuan soft skill daripada kemampuan intelektualnya.
    7. Pengetahuan yang didapat oleh setiap siswa akan berbeda-beda dan tidak merata.
    8. Peran guru tidak nampak terlalu penting lagi karena dalam CTL ini peran guru hanya sebagai pengarah dan pembimbing, karena lebih menuntut siswa untuk aktif dan berusaha sendiri mencari informasi, mengamati fakta dan menemukan pengetahuan-pengetahuan baru di lapangan.

    BalasHapus
  10. Menirut saya, kedua model dapat dipadukan jika dalam pembelajaranya memungkin, hal ini dapat tercapai ketika giru menjadi pelaksana dalam perpaduan ini, mulai datlri memilih tema pelajaran yang tepat, strategi gi pembelajaranya, serta media yang diperlukan dalam perpaduan model ini...
    Salam edukasi

    BalasHapus
  11. Pak reri sebenarnya kedua model ini masih diterapkan pada k13, hanya saja mengalami perubahan nama dan modelnya semakin disempurnakan, untuk lebih jelasnya penjelasan pertanyaan nomor satu mungkin bisa mengunjungi blog saya dgn judul artikel yg sama
    http://soniamargereta2.blogspot.co.id/2018/02/modelpembelajaran-konseptual-dan-model_11.html?m=1#comments

    BalasHapus
  12. Untuk model pembelajaran kontekstual dapat di lakukan pada kurikulum apa saja dan materi apa saja, jadi model pembelajaran kontekstual ini dapat digunakan pada kurikulum k-13 untuk yg terbaik atau tidak setiap pembelajaran tentu memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing

    BalasHapus
  13. Menurut pendapat saya penggunaan metode kontekstual dan kolaboratif sangat cocok untuk digunakan dalam K.13 karena guru akan berperan sebagai fasilitator dan terbentuk proses pembelajaran student center

    BalasHapus
  14. Terima kasih pak reri atas postingannya yang menarik. Sy akan mencoba menjawab pertanyaan no. 3 bahwa semua guru baik SD SMP dan SMA dapat menerapkan model pembelajaran kontekstual dan kolaboratif.
    Sebagai guru maka harus bersikap profesional dengan tantangan model pembelajaran apapun guna meningkatkan hasil belajar siswa
    Terima kasih
    Salam

    Ema Faorika

    BalasHapus